Berburu Monza ke Kabanjahe

Monza, warga kota Medan pasti tidak asing lagi dengan istilah tersebut. Monza merupakan barang-barang bekas atau secondhand  dari berbagai brand  luar negeri yang masih layak pakai, tetapi dengan harga yang sangat terjangkau, hal ini tentu sangat cocok bagi masyarakat yang minim dalam dana tapi tetap ingin bergaya. Mengenakan barang-barang dengan merk luar negeri yang terkenal tentu akan menambah kepercayaan diri bagi yang memakainya, entah itu baru atau bekas tak jadi masalah, yang penting merknya, hhehe

Barang-barang bekas yang  pertama kali ada di Jalan Mongonsidi Medan tersebut menjual aneka jenis topi, jas, jaket, kemeja, dasi,  kaos, tas, sepatu, bahkan pakaian dalam. Sampai sekarang aku belum pernah melihat orang yang membeli pakaian dalam bekas, jika suatu saat menemukan orang seperti aku, rasanya aku ingin mewawancarainya dan menanyakan alasan dan perasaannya saat memakai pakaian dalam bekas, hhehe

Hari itu, sekitar pukul 6 pagi aku harus bergegas ke salah satu Mini Market yang terletak di Jalan Jamin Ginting, karena disana adalah titik kumpul bersama beberapa teman. Pagi itu kami telah sepakat akan berburu barang-barang monza di Kabanjahe, salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Karo. Tiba disana ternyata masih sepi, tidak satu pun dari mereka yang tampak batang hidungnya, yang ada hanya beberapa mobil yang ditinggal parkir pemiliknya yang lagi sarapan di warung sebelah. Sedikit kesal sih, karena aku udah bela-belain datang tepat waktu, padahal waktu itu mata masih ngantuk akibat begadang semalaman dan hanya tidur 2 jam. Aku coba mengubungi mereka melalui telepon bahkan BBM, tapi tidak ada balasan. “ Kampret, jangan-jangan orang ini masih tidur ”, bisikku dalam hati. Setelah 1 jam berlalu dan aku hampir berkarat menunggu mereka, akhirnya muncul juga dua makhluk yang bernama Bolang dan Ginting yang sudah berhasil membuat aku menunggu selama ini. Sambil melempar senyum tak berdosa mereka hanya berkata, “ Sorry Bang”. Akhirnya kami bertiga berangkat menuju lokasi, aku juga telah memaafkan keterlambatan mereka, sebagai manusia kita harus saling memaafkan bukan. Hhhehe

IMG_1771
Sabar menunggu, hhehe

Kami menamakan diri kami DENSUSZA ( Detasemen Khusus Monza ), sebenarnya buat iseng-iseng aja, biar keren sedikit, Hhhehe. Aku mengendarai sepeda motor seorang diri, sementara Ginting berboncengan dengn Bolang. Kami memacu sepeda motor dengan kecepatan sedang. Tapi aku melihat Ginting sepertinya kurang fokus mengemudikan motornya, beberapa kali mereka hampir bertabrakan dengan Bus dan Truk, sementara Bolang sesekali menolehkan pandangan kepadaku dengan dengan tatapan cemas dengan ulah Ginting yang kurang fokus tersebut. Aku berpikir sebenarnya apa yang membuat ginting tidak fokus seperti itu, apa karena memikirkan cicilan, merindukan pacar, atau karena lapar. Astaghfirullah, aku baru sadar ternyata kami belum sarapan pagi itu. Tak lama berselang kami pun berhenti di pinggir jalan perbatasan antara Sibolangit dan Berastagi. Kami pun menyantap roti yang sebelumnya telah dibeli Ginting di salah satu Mini Market saat kami mengisi bensin. Sehabis sarapan kami pu melanjutkan perjalanan.

IMG_1864 (1)
Sarapan roti dulu

 

Waktunya Hunting

Tepat pukul 9 pagi akhirnya kami menghirup udara Kabanjahe yang sejuk dan segera menuju pasar. Sesampainya di pasar Aku, Bolang, dan Ginting lalu memarkirkan kendaraan. Dari parkiran aku dapat melihat gagahnya Gunung Sinabung yang dulu berwarna hijau asri kini telah berubah menjadi gersang tertutupi oleh abu vulkanik, di sekitar pasar terdapat  banyak mobil dan angkot yang lalu-lalang mencari penumpang. Sebelum melangkahkan kaki memasuki pasar kami pun berdoa, berharap semoga perburuan kami berjalan lancar dan barang yang kami inginkan dapat kami temukan. Lalu kami memasuki pasar, pagi itu belum banyak pedagang yang menjual dagangannya, masih banyak lapak yang terlihat kosong. Ternyata kami tidak sendiri, ada beberapa hunter seperti kami juga yang bersiap-siap membongkar dagangan dengan harapan menemukan “emas” untuk di jual, hhehe. Kami bertiga  pun berpencar agar proses perburuan lebih efisien.

IMG_1790 (2)
Sinabung dari kejauhan
IMG_1776
Densusza siap grebek pasar, hhehe

Pelan namun pasti kami terus menyisir setiap sudut pasar, kami beranjak dari satu tempat ke tempat yang lain, tidak satu kios pun yang lewat dari pantauan kami. Kaki terus melangkah, tangan tak hentinya membongkar bal yang ada, hingga akhirnya mata jeli Ginting menangkap sebuah jaket gunung berwarna ungu cerah dengan merk Columbia, “Alhamdulillah dapat yang lumayan sangar”, sebut Ginting. Tidak puas sampai disitu, kami terus melanjutkan pencarian kami hingga tak lama berselang kami berhenti di sebuah kios sepatu, instingku mengatakan bahwa kami akan menemukan “emas” disini. Ternyata dugaanku benar, Lagi-lagi Ginting memperlihatkan bakatnya, mata jelinya  tertuju pada dua buah sepatu yang berjejer rapi diatas sebuah rak, satu dengan merk Asolo dan yang satunya lagi dengan cap Eider.

“Tapi sayang kali woi, sepatunya ukuran 39, kalo tadi ukuran 41 atau 42 udah bisa kita banderol tinggi ini ”, kata Ginting sembari menghela nafas.

“Udah syukuri aja pal, setidaknya kita tidak pulang dengan tangan kosong, kau pun bisa nambah-nambah sinamotmu buat adek yang di Siantar tu, cocok ??? “, jawabku tersenyum.

“Cocok, bungkus, hhahahah”, sahut Ginting sambil tertawa.

“Memang ga salah kalau kami juluki kau Ramon Ting (Raja Monza)”, Bolang menimpali.

Kami pun tertawa lepas di dalam kios tersebut.

IMG_1785

IMG_1787

IMG_1819

IMG_1855

IMG_1851

IMG_1852

IMG_1853

IMG_1800

IMG_1801

IMG_1812

IMG_1814

Makan Siang

Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 1 siang, cuaca semakin panas, matahari semakin terik, kami pun harus memenuhi salah satu kebutuhan fisiologis kami, yaitu makan. Kami bertiga bertolak menuju Berastagi untuk makan siang. Sesampainya disana, kami pun mencari Rumah Makan yang tampak “ murah”. Kemudian kami pun menentukan pilihan pada sebuah rumah makan yang berada tepat di depan pasar Berastagi. Tiba di warung kami bertiga kompak memesan lauk telur dadar dengan minum teh manis dingin biar lebih murah, soalnya lagi tanggal tua,  hhhehe. Tak lama berselang seorang pelayan wanita pun menyajikan pesanan kami, tiba-tiba tanpa sengaja ia menumpahkan kuah gulai di meja, aku tidak tahu penyebab pelayan yang kira-kira masih berusia 17 tahun itu menjadi kurang fokus, entah karena terpesona dengan wajah hitam manis Ginting atau justru karena takut dengan wajah Bolang yang seram. Yang jelas pelayan tersebut terlihat salah tingkah sejak kami duduk disana. Mungkin kami yang terlalu ge-er ya.. hhehe

IMG_1820

Sehabis makan tibalah saatnya untuk membayar, aku memanggil pelayan tadi untuk menyanyakan billnya,

“ Dek, berapa semuanya ? ”, tanyaku dengan penuh percaya diri.

“ Semuanya 72 ribu bang ”, jawab pelayan tersebut.

Aku terkejut mendengar ucapan pelayan itu, sejenak aku terdiam, kami bertiga saling bertatapan, beberapa detik berselang kami masing-masing mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet lalu memberikannya kepada pelayan tersebut. Kami pun beranjak meninggalkan warung menuju parkiran motor dengan diam membisu tanpa sepatah kata pun. Setibanya di parkiran,

“ Untung kita cuma mesan telur dadar ya boss, sempat kita tadi mesan ayam udah kenak berapa kita “, kataku menggerutu.

“ Sekali ini aja kita makan disini boss ”, jawab Ginting kesal

“ Zonk kali kita bah “, sahut Bolang menimpali

Kembali ke Medan

Setelah menghidupkan mesin motor kami bertiga pun pulang ke Medan. Kami memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, setelah 30 menit berlalu, kami tiba di kawasan Penatapan, kami lalu memasuki salah satu warung untuk sekedar bersantai seraya menikmati secengkir teh hangat. Suasana warung tersebut cukup ramai, selain kami ada banyak pasangan ABG yang sedang duduk berduaan dengan kekasihnya, mereka pegangan tangan, suap-suapan, saling memuji dan bercanda satu sama lain.  Melihat fenomena tersebut membuat kami sedikit geli.

 “ Sebetulnya yang udah dewasa itu kami atau anak-anak ini ? Kok serasa macam disepelekan  gitu kami ya, hhaha ”, bisikku dalam hati.

Tapi wajar aja sih, di usia mereka sekarang ini memang lagi “panas-panasnya”, fase dimana mereka baru merasakan apa itu cinta, fase dimana mereka ingin diakui keberadaannya, hanya saja banyak diantara mereka tidak mengetahui batasan-batasan yang ada sehingga tidak sedikit yang akhirnya keluar jalur.

Cuaca sore itu di Penatapan sangat sejuk, anginnya yang sepoy-sepoy seolah menggoda kami untuk terus berlama-lama disana. Setelah menghabiskan teh manis hangat dan beberapa cemilan kami pun bergegas meninggalkan warung dan kembali ke Medan.

IMG_1774

Buat kawan-kawan yang punya pengalaman serupa atau yang punya barang monza di rumah, monggo di share di kolom komentar.

Terimakasih

Salam Monza hhehe


14 respons untuk ‘Berburu Monza ke Kabanjahe

  1. Dulu saya pernah suka sekali berburu jaket-jaket bekas. Sebenarnya kalau pinter milihnya, saya mungkin bisa dapet barang yang bagus. Tapi saya nggak sejeli itu . Pernah beli jaket yang kelihatannya bagus, eh sampai rumah ternyata ada bagian yang bolong.

    Suka

  2. Wih gila haha keren bener bah. Tp masak iya ada yg belicelana dlm bekas haha. Kalau d sini nyebutnya bataman. Tp blm ada yg jual sepatu. Ak pingin sepatunya haha. Dulu pernah beli celana dpt yg bagus jeans merk cc haha. Klo d sini udh d pisah bang yg bagus d bandrol harga khusus tp ttp murah untuk produk bekas bermerek.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Belum pernah jumpa yang beli sih mas.. cuma kalo ada yang jual berarti ada yang beli donk.. hhhee

      Beberapa penjual ada yang udah tau merk sih mas.. makanya kami berburunya ke kabanjahe.. soalnya kalo disnaa belum banyak yang tau merk.. kalo di medan udah banyak yang tau mas.. jadi harganya lebih mahal.. kalo dijual untungnya jadi sedikit.. hhehe

      Suka

  3. Bekas di sini maksudnya pernah dipakai orang atau sisa ekspor Bang? Kayaknya di tempat saya ada juga tapi kecil, di gerobak motor gitu. Apa sama kayak itu ya? Ada seninya juga milihnya. Itu makan di Nasi Padang bukan? Kok mahal bingit haha…

    Suka

    1. Disini maksudnya bekas dipakai orang mas.. tapi barang branded original luar negeri semua.. kalo harga barunya bisa mencapai jutaan rupiah.. tapi kalo disini paling mahal juga cuma 250 ribu mas.. tapi ya memang harus sabar mencarinya.. harus keliling2 pasar dulu.. harus obrak abrik karungnya dulu.. lumayan capeklah mas.. 😁

      Iya warung nasi padang mas.. namanya juga daerah wisata mas.. Berastagi disini semacam puncak kalo di jakarta sana mas.. 😁

      Suka

      1. Yoi mas.. selain kebun buah, ada peternakan susu sapi nya juga mas, kalau mau wisata alam ada gunung sibayak juga mas plus pemandian air panas nya mas.. tempat yang pas buat nenangin diri.. siapa tau dapat inspirasi.. 😁

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.