Pegawai vs Pengusaha

Sebagai seorang manusia, tentu kita memiliki banyak kebutuhan hidup, seperti sandang, pangan, dan papan, baik yang termasuk kategori primer, sekunder, atau bahkan kategori tersier. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut pasti pakai uang, bukan pakai daun yang terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, yang tenggelam dalam lautan luka dalam, eh kok jadi macam judul lagu ya, hhehe

Untuk mendapatkan uang tersebut tentu kita harus punya pekerjaan,dengan kata lain kita harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang tersebut, sebab uang tidak akan datang kalau kita hanya duduk santai sambil nonton gosip artis yang pernah ada habis-habisnya.

Nah aku sendiri mengelompokkan pekerjaan ini menjadi dua, yaitu karyawan dan pengusaha. Mayoritas kita sebagai warga Indonesia justru memilih menjadi seorang karyawan, entah itu menjadi karyawan di kampung sendiri atau menjadi karyawan negara lain. dan hanya sedikit yang memiliki impian menjadi seorang pengusaha.

Menurut Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga mengatakan, bahwa jumlah pengusaha di Indonesia hanya sekitar 1,65 persen dari jumlah penduduk saat ini. “Kita kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga. Misalnya Singapura sebesar tujuh persen, Malaysia lima persen, dan Thailand empat persen,” kata Puspayoga dalam acara   “Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri”, Kamis (12/3). Ia berpendapat, jika jumlah pengusaha bisa bertambah maka akan turut mendongkrak ekonomi negara, bertambahnya lapangan pekerjaan, dan akhirnya meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi ia juga mengharap agar pengusaha mau membangun usahanya di sejumlah daerah di Indonesia, dan tidak berfokus hanya pada kota-kota besar saja.

Dari pernyataan tersebut dapat kita simpulkan bahwa daftar pengusaha di Indonesia masih sangat minim sekali. Berada pada zona nyaman sebagai seorang karyawan dengan gaji tetap sepertinya masih menjadi magnet yang kuat bagi masyarakat kita. Rasa takut gagal dan tidak berani menerima resiko selaku momok menakutkan bagi kita untuk memulai sebuah usaha. Jalan yang terjal dan penuh liku-liku tentu sudah menanti di depan jika seseorang telah memantapkan diri untuk menjadi seorang pengusaha. Oleh karena itu seorang pengusaha diharuskan memiliki tekad baja, pantang menyerah, dan terus evaluasi diri agar hambatan-hambatan  yang menghadang dapat diatasi.

Aku pernah membaca buku  biografi seorang Bob Sadino. Bagaimana kerja keras Bob Sadino dulu saat memulai usahanya sebagai penjual telur ayam, beliau berkeliling dari rumah ke rumah untuk menawarkan telur ayam dagangannya kepada warga. Ia juga sempat menjadi supir taksi gelap, bahkan pernah jadi kuli bangunan. Berkat kerja keras dan semangat pantang menyerahnya alhasil sekarang beliau telah memiliki perusahaan bernama KemChick yang telah memiliki dua gerai di daerah Jakarta dan telah memiliki karyawan mancapai 500 orang.

bisniskeuangankompascom
bisniskeuangan.kompas.com
kemchick
enciety.co

Aku juga pernah menonton film  The Billionaire, sebagian kawan-kawan mungkin juga pernah menontonnya. Film ini diadaptasi dari kisah nyata seorang pemuda Thailand yang bernama Top Ittipat, seorang pecandu game yang putus sekolah. Setelah ia putus sekolah ia memutuskan untuk menjadi pedagang kacang di sebuah supermarket, kemudian ia harus menelan pil pahit karena pemilik supermarket tidak mengizinkannya lagi beroperasi karena asap penggorengan kacangnya meninggalkan bekas di asbes Supermarket tersebut. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Pada usia 19 tahun, ia menciptakan cemilan rumput laut, dan berkat kerja kerasnya saat ini cemilannya yang bernama Tao Kae Noi dijual di 3000 cabang 7 Eleven di Tailand. Saat ini Top adalah pengusaha cemilan rumput laut terlaris di Thailand dengan penghasilan 800 juta baht per tahun dan telah mempekerjakan 2000 karyawan.

taokaenoi ig
ig : taokaenoy
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa blogmyfatpcketcom
blog.myfatpocket.com

Mereka adalah contoh pengusaha sukses, masih banyak lagi contoh pengusaha-pengusaha yang sukses yang memulai bisnisnya dari nol, contohnya Chairul Tanjung ( Si Anak Singkong) selaku owner Trans Corp, Steve Jobs selaku CEO Apple, Bill Gates sebagai pemilik Microsoft Corporation, ada juga Jack Ma dengan Perusahaan Alibabanya, dan lain sebagainya yang tidak mungkin aku sebutkan satu persatu disini, mungkin kawan-kawan bisa mencari buku biografinya di Toko Buku terdekat atau searching di internet saja. Supaya kuotanya ga abis cuma buat stalking sosial media gebetan ama mantan  aja. Hhhehe

Siapa yang ga ngiler coba melihat kesuksesan orang-orang tersebut. Mereka telah menjelma jadi milyuner, memiliki harta melimpah, dan punya segalanya. Kita juga bisa melihat efek yang ditimbulkan dari bisnis mereka, perusahaan mereka telah mampu menghasilkan ratusan bahkan ribuan lapangan pekerjaan. Hal ini tentu menjadi solusi dalam mengurangi angka pengangguran yang ada, terutama di Indonesia. Jika penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 250 juta jiwa ini, paling tidak 5 persennya memilih menjadi pengusaha, bayangkan berapa juta lapangan pekerjaan yang akan tercipta, jumlah pengangguran pasti akan menurun, perekonomian negara akan bangkit, berkurangnya angka kriminalitas, dan hal ini tentu akan meningkatkan kesejahteraan rakyat juga.

Sayangnya, kebanyakan masyarakat kita, khususnya pemuda masih takut untuk mencoba. Kalaupun ada  niat untuk memulai bisnis hanya sebatatas ide saja, entah kapan direalisasikannya. Padahal menurut om Bob usaha yang sukses adalah usaha yang dilakukan, bukan yang dipikirkan. Sepertinya rasa takut gagal itu masih mengantui, takut jika usahanya nanti tidak laku, minim pelanggan, sepi peminat hingga akhirnya bangkrut. Kita bisa mengambil pembelajaran dari kisah perjuangan Bob Sadino dan Top Ittipat diatas, mereka juga pernah mengalami kegagalan bahkan mereka pernah kehilangan segalanya dan hampir kehilangan harapan. Tapi mereka terus berjuang, kegagalan tersebut dijadikan cambuk untuk terus mengejar impian mereka, mereka terus belajar dan mengevaluasi  kesalahan dan memperbaikinya sehingga tidak jatuh ke dalam lubang yang sama. Karena mereka yakin usaha mereka suatu saat pasti akan membuahkan hasil, sebab hasil tidak akan pernah mengkhianati proses. Buktinya sekarang mereka telah menikmati buah hasil kerja keras mereka selama ini.

lpmpjogjaorg
lpmpjogja.org

Menjadi seorang karyawan atau pegawai juga tidak ada salahnya. Tapi  seorang pegawai tentu harus siap dan tunduk dengan segala peraturan yang telah ditetapkan oleh si pemilik usaha. Seperti wajib datang pagi dan pulang malam hari, memakai seragam atau kemeja setiap hari, harus bersedia lembur, dan mesti tunduk dengan semua perintah atasan kita, dan terkadang hal-hal itu membuat kita depresi, tidak semangat dalam bekerja,  sehingga kerjaan menjadi terbengkalai dan ujung-ujungnya dimarahi lagi sama atasan, begitulah seterusnya sampai semua tukang bubur naik haji, hhehe.

Jika hati sudah mulai tidak nyaman dengan keadaan tersebut mungkin sudah saatnya kita mulai berpikir untuk memulai usaha sendiri. Sepertinya kita memang tidak cocok kerja di air, eh maksudnya tidak cocok jadi pegawai, tiba-tiba saja aku jadi teringat iklan ramalan yang sempat booming beberapa tahun lalu, hhehe

Tapi jika kita memang merasa santai saja dengan kondisi tersebut, berarti kita memang cocoknya kerja di air, eh maksudnya kerja sebagai pegawai. Hhehe. Kita harus bekerja dengan penuh semangat, jangan malas-malasan, jangan cuma makan gaji buta saja, hhehe.

bob sadino klikmania.net
klikmania.net

Kayaknya udah dulu lah ya, capek juga aku yang ngetik ini, gapapa lah ya kalo agak-agak serius gini postinganku, lagipula ga serius-serius kalinya kutengok, masih ada becanda-becandanya sikit kubuat, udahlah ya kuhabiskan dulu rokok sebatang ini sama kopiku yang udah dingin ini, kembung jugalah kutengok nanti perutku gara-gara kopi yang dingin ini, hhehe

Oya hampir lupa aku, aku pengen tau tanggapan kawan-kawan tentang postinganku ini, jangan lupa tulis di kolom komentar ya.

Terima kasih. ^_^


10 respons untuk ‘Pegawai vs Pengusaha

  1. Enak jadi pegawai karena bisa dapat gaji yang sama meskipun tidak bekerja terlalu keras.

    Sedangkan pengusaha gajinya ditentukan oleh pekerjaannya sendiri. Klo kerja keras hasilnya semakin besar. Klo malas ya bisa gak gajian.

    Berarti rata2 orang indonesia itu malas karena tidak memilih jafi pengusaha. Kerja santai jagi pegawai merupakan pilihan untuk seumuf hidup.

    Disukai oleh 3 orang

    1. Nah itu dia mas.. bukan bermaksud understimate sama pegawai.. hanya saja kebanyakan emang gitu.. maunya dapat gaji tinggi tapi kerjanya santai.. trus banyak ngeluhnya lagi.. cuma kita lihat keadaan Indonesia ini aja.. kenapa kita masih berharap pada lapangan kerja yang semakin sulit.. kenapa kita tidak mencoba menciptakan lapangan kerja sendiri

      Disukai oleh 1 orang

  2. Menurut saya kita memang tidak pernah diajarkan untuk menjadi pengusaha bahkan sejak masih kecil.

    Kebanyakan orang tua terlalu melindungi anak-anaknya sehingga susah buat mereka untuk mandiri. Di sekolah juga kita jarang sekali diajarkan untuk berpikir kreatif. Seringnya malah hanya disuruh untuk menghafal materi pelajaran.

    Last but not least, para calon mertua cenderung akan mudah luluh jika anaknya dipinang oleh seorang pegawai (apalagi PNS) daripada seorang pengusaha dengan pendapatan yang sama.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Betul mas.. sistem pendidikan di negara kita ini cenderung untuk mencetak pegawai pegawai, bukan pengusaha..
      Jika pun ingin mendalami bisnis ya harus kuliah bisnis..

      Padahal semua mata pembelajaran jika kita kreatif bisa menjadikan kita seorang pengusaha..

      Mungkin karna mindset masyarakat kita yang masih menganggap bahwa PNS dengan gaji tetap itu lebih baik daripada seorang pengusaha yang bisa saja suatu saat mendapatkan penghasilan berkali2 lipat dari gaji seorang PNS

      Disukai oleh 1 orang

  3. Setuju. Jd pegawai nga salah. Lbih baikdri pada pengangguran. Nga semua org bisa jd pengusaha tp bisa d siasati dgn penanaman modal atau kerjasama. Kalau ak si enaknya jd pegawai tp punya usaha juga haha.

    Suka

  4. Pegawai/Pengusaha menurut saya sih..keduanya baik yg terpenting keduanya haruslah kita jalankan dengan baik, kerja keras dan benar..
    Kalau saya sendiri pernah jadi pegawai dibeberapa perusahaan dan pendidikan..
    Sejak 5 tahun yg lalu sampai saat ini saya memutuskan tuk total didunia usaha bidang Distribusi Retail dan mengajar ttp hanya saja tidak di sekolah formal tapi PRIVATE agar ilmu dibangku kuliah ga lupa he..he..

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.