Liburan Irit di Tangkahan, Kawasan Ekowisata di Kabupaten Langkat

Sabtu 10 Februari 2018. Aku, Dedi, Basril, dan Memet sepakat untuk menghabiskan akhir pekan di Tangkahan, sebuah kawasan Ekowisata di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Setelah mandi dan mengemas barang-barang yang akan dibawa aku pun menuju salah satu LPPM di daerah USU, tempat itu kami jadikan titik kumpul bersama. Dedi ternyata terlebih dahulu sampai daripada aku, pagi itu kami tinggal menunggu kehadiran Basril sedangkan Memet akan kami jemput terakhir di kosnya. Aku sadar ternyata aku belum sarapan, daripada nanti aku pingsan lebih baik aku mengisi tenaga dulu sambil menunggu Basril. Setengah jam berlalu rupanya pria kurus itu belum menampakkan batang hidungnya, Aku dan Dedi mulai kesal karena perjanjian di awal adalah jam 8 pagi harus berangkat sementara Basril tak kunjung tiba padahal jarum jam sudah berada di angka 8.30.

Tampaknya Allah tidak mengizinkan kami berlama-lama dalam memupuk kekesalan, akhirnya Basril muncul di hadapan kami juga dengan senyum khasnya. Sepintas aku merasakan ada sedikit keanehan pada laki-laki berambut tipis tersebut. Sepertinya pagi itu ia salah kostum, jika mayoritas orang-orang akan berpenampilan santai saat liburan justru Basril terlihat sangat rapi dengan setelan kemeja formal, celana bahan, dan sepatu pantofelnya.

“ Kau mau ngapain Bas ? mau nyebarin brosur kreditan motor di Tangkahan sana ? Hhahaha  “ selorohku.

“ Ga dikasih orang rumah aku pake kaos ama celana jeans Di ” jawab Basril lesu.

Mendengar jawabannya itu sontak aku kaget, ternyata kebebasannya berpenampilan sudah dikekang semenjak ia menikah beberapa bulan lalu. Kelihatannya aku harus lebih jeli lagi nih untuk mencari pendamping hidup. Hhehehe

Waktu menunjukkan pukul 9.00, setelah puas mengejek Basril dengan penampilan out of the boxnya kami pun menuju kos-kosan Memet untuk menjemputnya. Sesampainya disana kami tak butuh waktu lama menunggunya, Laki-laki tambun itu pun keluar dari kosnya dengan busana santai memakai sweater, celana pendek, dan sandal trekking, sangat kontras dengan penampilan Basril. Personil telah lengkap kami pun segera memacu kereta (red:motor) menuju Tangkahan.

Sempat Salah Arah

Roda motor terus berputar hingga kami berada di Simpang tiga  Pasar 10 Tanjung Beringin, kemudian kami belok ke kiri. Memasuki Kecamatan Padang Tualang, jalanan lumayan mulus serta kiri dan kanan ditumbuhi barisan pohon sawit yang luas. Sepanjang jalan aku mengamati sekitar, sepertinya tempat ini memang belum dilengkapi fasilitas lampu jalan, sehingga tampaknya kondisi jalan pasti gelap gulita saat malam. Jadi aku sarankan sebaiknya hindari perjalanan malam melewati daerah ini untuk meghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Ternyata kami tidak  diperkenankan berlama-lama menikmati jalanan yang mulus, memasuki Kecamatan Batang Serangan pelan-pelan kami mulai disuguhi jalanan berbatu dan berdebu. Sebelumnya aku memang sudah mendapat kabar bahwa kondisi jalan menuju Tangkahan itu kurang mulus. Tapi aku tidak menyangka kalau ternyata separah itu, apalagi untuk ukuran motor Scoopy milikku, tentu keadaan ini kurang bersahabat. Beruntung yang aku bonceng adalah Basril yang badannya kurus kering, bayangkan kalau yang aku bonceng adalah Memet yang bertubuh gemuk, bisa remuk motorku. Hhhehe

IMG_4234
Jalanan yang berdebu, seperti hatiku tanpa adanya dirimu 😀

Aku mengendarai motorku dengan santai, dengan kondisi jalan yang kurang bersahabat ditambah posisiku yang  berada di Kampung orang sangat tidak memungkinkan bagi motorku untuk melaju cepat. Berbeda dengan Dedi yang memacu motornya dengan kecepatan cukup tinggi, Honda CB 150 miliknya sepertinya menunjukkan “kejantanannya” saat itu. Alhasil kami pun terpisah di persimpangan Desa Namo Sialang. Dedi dan Memet belok kanan sementara aku Aku dan Basril belok ke kiri. Sepanjang jalan aku dilanda kebingungan.

“ Bas betul ga orang Dedi belok kiri tadi ? ” tanyaku.

“ Kayaknya betul Di “, jawab Basril setengah hati.

Kata “kayaknya” yang dilontarkan Basril membuatku kian resah dan bimbang. Perasaan itu semakin kuat saat jalanan semakin lama semakin kecil dan kami tampaknya mulai berada di area perkebunan penduduk. Aku pun menghentikan laju motorku.

“ Ga betul ni Bas, cak kau telpon Dedi, pas ga ni jalannya ? ” pintaku.

“ Bentar Di, daritadi ga diangkatnya, “ sahut Basril.

IMG_4237

Tak lama berselang Dedi pun menjawab telepon Basril. Mereka terlibat percakapan selama 2 menit, dan hasilnya adalah kami 100% salah jalan. Tanpa pikir panjang aku kembali menghidupkan mesin motor dan melaju dengan cepat, sampai di persimpangan tadi aku kaget ternyata disana sudah ada papan penunjuk jalan. Aku dan Basril pun jengkel kepada diri kami sendiri karena sebelumnya tidak melihat papan penunjuk jalan sehingga kami harus salah arah hampir satu kilometer. Terlebih diriku sendiri, entah apa dan siapa yang aku pikirkan saat itu.

Tiba di Tangkahan

IMG_4245
Muka lelah setelah perjalanan 3 jam

Hari semakin panas dan Matahari kian terik. Melewati Desa Namo Sialang tampaknya jalanan semakin tidak karuan. Aku mengatur laju scoopyku lebih pelan lagi, jangan sampai si Opi (nama motor scoopyku) yang sangat aku cintai ini menghembuskan nafas terakhirnya disini. Semenjak saat itu Dedi pun memacu motornya dengan santai, mungkin takut Aku dan Basril tersesat lagi atau justru Dia dan Memet tidak bisa jauh dari kami. Hhehe

Usai berjibaku dengan jalan yang berbatu dan penuh debu, tepat jam 12 siang kami berempat akhirnya tiba di Tangkahan. Sehabis memarkirkan kendaraan kami didatangi oleh seorang pria yang ingin menawarkan Penginapan, terlebih dahulu ia menanyakan jenis cottage yang kami inginkan. Berhubung budgetnya pas-pasan, maka kami pun menjatuhkan pilihan kepada Mega Inn. Biaya sewa kamarnya cukup murah, hanya Rp.150.000 / malam, kamarnya luas, rapi, bersih, dan ada kipas anginnya juga. Di depan kamar ada terasnya yang dilengkapi sebuah meja dan dua buah kursi yang terbuat dari kayu, tidak lupa ada sebuah hammock yang bergantung di sisi teras. Sebenarnya ranjang di kamar ini cukup luas, muat untuk 3 orang, tapi karena kami ada 4 orang, jadi nanggung kalau pakai satu kamar. Maka kami pun menyewa 2 kamar siang itu, Dedi dengan Memet sementara Aku bersama Basril. Mega Inn memiliki desain yang cukup simpel, alami, namun artistik, di sekelilingnya ditumbuhi rumput pepohonan yang rindang, hingga kami tidak merasa menyesal memilih tempat ini sebagai pelarian sementara dari segala hiruk pikuk kota Medan.

IMG_4326

IMG_4496

IMG_4493

IMG_4487

IMG_4494

IMG_4425

IMG_4414

IMG_4426

IMG_4419

Jembatan Tangkahan

Setelah menaruh tas dan meregangkan otot-otot pinggang sehabis touring selama 3 jam, kami pun mulai berjalan-jalan. Di Tangkahan ada sebuah jembatan gantung yang cukup ikonik, letaknya tidak jauh dari parkiran. Harusnya orang-orang membayar Rp 3000 / orang untuk melewati jembatan ini,  tapi untuk kami digratiskan sebagai bonus karena menginap di Mega Inn.

IMG_4499

Awalnya aku merasa biasa aja melewati jembatan gantung ini, tidak ada goncangan sama sekali, tapi semakin melangkah ke tengah lama-kelamaan goncanannya kian terasa. Aku yang tadinya berjalan dengan santai kini harus berpegangan dengan tali pembatas jembatan. Ditambah lagi Dedi menjahiliku dengan menghentak-hentakkan kakinya dengan keras, sontak adrenalinku semakin terpicu. Ya Allah ternyata pria macho sepertiku bisa takut ketinggian juga. Hhhehe

NGXT1789

Dari atas jembatan dengan panjang hampir 50 meter dan tinggi sekitar 50 meter ini kalian bisa melihat eksotisme alam sekitar. Sungainya berwarna tosca dan diapit oleh pepohonan nan rindang. Kami pun tidak lupa mengabadikan momen-momen menakjubkan dari atas jembatan ini. Aku sempat berpikir untuk terjun dari atas jembatan ini, tapi berhubung aku takut ketinggian, aliran sungainya juga lumayan deras dan sepertinya tidak begitu dalam akhirnya aku urungkan niatku. Kayaknya aku terjun ke pelukan adek itu ajalah. Hhhaha

IMG_4260

Karma Itu ada

Waktu menunjukkan pukul 2 siang, tadinya kami ingin langsung menuju tempat pemandian Gajah yang merupakan ciri khas dari Tangkahan. Namun setelah kami sedikit bertanya kepada warga sekitar, ternyata proses memandikan Gajahnya dimulai sekitar pukul 3.30 sore. Jadi untuk mengisi waktu luang kami meutuskan untuk menjelajahi sungai sekitar.

Lagi-lagi Basril berulah, ternyata ia sama sekali tidak membawa sandal. Aku bingung, sebenarnya apa yang ada di pikirannya. Sudahlah memakai setelan rapi selama perjalanan, sandal pun tidak dibawa juga. Apa mungkin karena efek baru menikah ya, jadi agak-agak kurang fokus gitu. Hhhehe

IMG_4265

Sebelumnya kami sudah menyarankan Basril agar membeli sandal jepit aja di warung depan, tapi ia terus ngotot untuk bertelanjang kaki.

“ Kau beliklah sandal di depan Bas, jangan bar – bar kali lah ,” saranku.

“ Udah Di aku kayak gini aja, toh nanti mau mandi-mandi juga di sungai, “ jawab Basril.

“ Melepuh kaki kau nanti Bas, panas lho,” pintaku dengan kesal.

“ Seloo Di, “ jawabnya santai.

Setelah melewati jembatan, kami bergegas menuju sebuah warung untuk makan siang. Jalan menuju warung makan itu dipenuhi batu-batu kecil, cuaca siang itu lumayan terik sehingga berefek pada batu yang ikutan menjadi panas. Usai melangkah beberapa meter  Basril mengeluh,

“ Panas ya Di,” keluh Basril.

“ Kau tahankanlah Bas, bentar lagi melepuhlah kaki kau itu, hhahaha “ tawaku puas.

Akhirnya Basril pun sadar kalau kulit kakinya tidak setebal kulit badak, ia pun mengalahkan egonya dan membeli sandal baru.

Selepas makan siang, kami beranjak ke sungai. Sesampainya disana aku cukup takjub, kalau dilihat dari dekat sungai di Tangkahan ternyata cukup bersih dan bening. Dasarnya dipenuhi oleh batu-batu kecil dan beberapa bagiannya cukup dangkal sehingga kami leluasa untuk menyeberanginya. Aku melewati sungai perlahan, takut terpeleset. Bukan masalah aku takut basah, tapi saat aku lagi memegang HP yang memang tidak di rancang waterproof.

Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Meski sudah sangat berhati-hati, nyatanya Tuhan berkehendak lain. Sandal yang kukenakan tiba-tiba terlepas sebelah karna tidak kuat menahan arus sungai. Aku teringat mungkin ini karma karna aku tadi menertawai Basril.

IMG_4293

IMG_4287

“Kau baca-baca apa Bas sampai Sandalku lepas gini ? “ tanyaku.

“ Astaghfirullah Di, ga pernah aku pake-pake kayak gitu,” jawab basril.

“ Kenak karma kau kan Di, Hhhaha” sahut Dedi.

“ Sabar Di, hhaha” Memet menimpali.

Melihat aku tersiksa seperti itu Basril, Dedi, dan Memet pun tertawa lepas. Terutama Dedi, dia tertawanya paling keras. Aku pun ikutan menertawai keadaanku yang sial ini. Hhhaha

IMG_4298

Conservation Response Unit ( CRU ) Gajah Tangkahan

Jarum jam berputar di angka 3.30 sore. Setelah lega berbasah-basahan di sungai, kami pun bergegas menuju kawasan konservasi Gajah. Tapi sebelumnya aku membeli sandal baru dulu, karena kakiku sudah cukup sakit melintasi sungai dan menginjak batu dasar sungai tanpa alas kaki. Usai membeli sandal, kami bertanya kepada pemilik warung mengenai arah menuju kesana.

“ Pak tempat pemandian Gajah itu jauh ga dari sini ? “ tanyaku.

“ Ohh dekat itu dek, kelen ikuti aja jalan ini, “ jawab pemilik warung.

“ Kira-kira berapa lama Pak, “ tanya Dedi lagi.

“ Ahh cuma 5 menit aja kok,” jawab Bapak itu.

Tanpa basa-basi kami segera berangkat dengan berjalan kaki. Aku merasa bersemangat karena untuk pertama kalinya aku akan menyentuh dan melihat Gajah dengan mata kepalaku sendiri. Waktu terus berlalu, tampaknya sudah lebih 10 menit kami berjalan, tapi kami belum menemukan tanda-tanda akan sampai. Hingga 30 menit berselang kami belum tiba juga. Mulai timbul prasangka buruk kepada pemilik warung tadi.

IMG_4329

“ Kurasa di bodoh-bodohi Bapak itu kita ni,” sangka Dedi.

“ Iya kurasa,” jawab Basril.

“ Ah masa sih,” sahut Memet.

“Mungkin maksud Bapak itu 5 menit kalo naik kereta,” sahutku.

“Iya pulak ya, ga ada pulak yang nanyain Bapak itu, langsung main pigi aja kita tadi,” kata Dedi.

“Oalahhh,” sahut Basril dan Memet bersamaan.

Ketika semangat mulai pudar, keringat mulai bercucuran sehabis berjalan kaki sepanjang 1 km lebih. Akhirnya kami tiba juga di pusat Konservasi Gajah di Tangkahan. Untungnya kami belum terlambat, suasana masih belum ramai, hanya ada sepasang turis  dengan tour guidenya,  Gajahnya juga belum nampak. Tak lama berselang, Hewan berbelalai panjang itu muncul juga bersama dengan pawangnya.

IMG_4330

IMG_4335

IMG_4347

OOJA1889

LZVZ8476

IMG_4510

Untuk memandikan satwa yang memiliki nama latin Elephas Maximus Sumatranus biayanya cukup mahal, yaitu Rp 100.000/orang. Mendengar harga yang kurang bersahabat tersebut kami pun mengurungkan niat. Al hasil kami pun harus rela hanya jadi penonton sepasang wisatawan asing itu memandikan Gajah. Tapi kalau dipikir-pikir, kami sepertinya sudah cukup puas kok melihat bule itu. Hhhehe

Walaupun tidak bisa memandikan Hewan lucu ini, setidaknya kami punya kesempatan naik diatas pundaknya. Dengan hanya merogoh kocek Rp.35.000/ orang. Kami sudah bisa menungganginya sambil mengelilingi kawasan Conservation Response Unit Tangkahan.

Sebagai info tambahan, Kajian WWF Indonesia mengatakan bahwa populasi Gajah Sumatera kian memprihatinkan, daalam 25 tahun mereka kehilangan 70% habitatnya. Angka itu semakin diperparah dengan maraknya perburuan liar yang terus terjadi.

Aku mengajak kawan-kawan sekalian, mari kita satukan langkah untuk melestarikan satwa langka ini. Jangan sampai 20-30 tahun kemudian anak cucu kita hanya bisa melihat Gajah Sumatera dari layar televis dan lembaran buku Ensiklopedi. Aku ingin anak cucu kita  ke depan bisa melihat, menyentuh, bahkan menunggangi hewan besar ini.

Malam Akustik

Hari mulai senja, matahari mulai terbenam. Setelah puas berinteraksi dengan Gajah kami pun beranjak menuju penginapan. Sesampainya disana kami istirahat sejenak, masing-masing sibuk dengan Handphonenya. Basril sibuk ngobrol dengan istrinya, sementara Aku, Dedi, dan Memet hanya melihat-lihat hasil foto kami seharian dan tak sabar ingin segera memajangnya di akun media sosial masing-masing. Namun sayang seribu kali sayang, ternyata sinyal disana sangat payah bahkan untuk kartu SIM sekaliber Telkomsel sekalipun. Tapi mendingan Dedi dan Memet yang menggunakan Telkomsel, meski sinyalnya buruk, mereka masih bisa chatting. Sedangkan Aku sebagai pengguna Axis harus lebih bersabar karena HP ku malah tidak mampu menangkap sinyal sama sekali. Alhasil aku harus rela mengemis “hotspot” demi kelangsungan hidup Smartphoneku.

IMG_4386
Menu makan malam seadanya 😀

Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Sehabis mandi kami pun pergi untuk mengisi perut yang sudah lapar. Aku baru tahu kalau setiap tamu yang makan malam di restoran Mega Inn akan dihibur dengan penampilan Akustik. Sehingga aku pun merasa kalau makan malam kami saat itu begitu sempurna karena sambil diiringi live music yang keren. Vokalisnya band Akustiknya pun sangat ramah dan interaktif, ia pun mempersilakan tamu untuk bernyanyi bersama. Salah satunya adalah Memet, tanpa basa-basi ia pun naik ke atas pentas. Dia pun menyanyikan lagu Thinking out  Loud dari Ed Sheran, sepertinya Memet belum puas sampai disitu, usai lagu Ed Sheran ia pun melantunkan tembang batak Mardua Holong, bahkan ia pun sampai bersenandung Kokoro no Tomo, karena kebetulan salah satu tamu disitu adalah para turis asal Jepang. Sebelumnya aku  tidak menyangka kalau ternyata Memet memiliki suara yang bagus, sebab aku terhitung masih baru mengenalnya, berbeda dengan Dedi yang merupaka tetanggaku di kampung dan Basril yang sudah kukenal beberapa tahun yang lalu. Sekilas suaranya mirip Mike Mohede, mungkin sebaiknya dia jadi penyanyi saja daripada menjadi Pegawai PTPN seperti sekarang. Hhehehe

IMG_4383

IMG_4391
Bang Choky
IMG_4398
Memet in action 😀
NHYU5341
Foto bersama pemain band

Selepas Memet mengeluarkan suara merdunya, aku pun tidak mau kalah, aku juga naik panggung dan menyanyikan lagu terlalu manis dari band legendaris Slank. Hasilnya ya sudah sudah dapat ditebak, suaraku tidak sebagus Memet. Tapi setidaknya ga malu-maluinlah, hhehe

Malam itu semua genre musik dikumandangkan, mulai dari  Pop, Reggae, Jazz, Rock, bahkan Country. Kami pun larut oleh alunan irama dari petikan gitar dan dentuman jimbe yang dimainkan.

Tidak terasa jarum jam sudah berada di angka 10, pesta pun berhenti, padahal tadinya aku berpikikir ini akan terus  berlanjut hingga tengah malam. Kami pun beranjak ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan badan yang sudah lelah dengan aktifitas kami seharian.

Surga Yang Tersembunyi

Pukul 07.00 WIB, malam berganti pagi, badan yang lelah jadi fit kembali. Aku mengawali hari itu dengan segelas teh dengan harga Rp.8000 dan sepiring nasi goreng seharga Rp 20.000, menurutku harga tersebut masih tergolong murah untuk kategori makanan yang berada di daerah wisata.

IMG_4432
Mengawali hari dengan segelas teh
IMG_4431
Jangan lupa sarapan, karena melupakan mantan juga butuh  kekuatan 😀

Setelah mengisi perut yang kosong, kami pun bertenaga kembali untuk berkeliling di sekitar Tangkahan. Ternyata ada beberapa spot wisata yang belum kami kunjungi kemarin, yaitu Air Terjun dan Pemandian Air Panas. Kami pun memutuskan untuk mengunjungi pemandian air panas terlebih dahulu. Untuk menuju kesana, kami pun harus menyusuri sungai kembali, untungnya sandalku tidak hanyut lagi, hhehe

Sepanjang jalan aku pun dibuat terpana oleh keindahan yang ada di Tangkahan ini. Suasananya begitu tenang, alamnya begitu asri, udaranya sejuk, dan sungainya sangat bersih. Semakin kami melangkah ke dalam aku semakin takjub oleh pepohonan yang tersusun rapi dan kokoh. Insting fotografiku pun muncul, aku segera mengabadikan lukisan Tuhan ini melalui lensa kamera ponselku. Kami pun tiba di pemandian air panas tersebut, awalnya aku mengira bentuknya seperti sebuah kolam, namun nyatanya hanya seperti sebuah gua kecil. Airnya tidak begitu panas dan sedikit berbau belerang. Jadi buat yang punya masalah kulit sangat cocok berendam disini.

IMG_4459
Pemandian air panas

IMG_4306

IMG_4310

EUUB2868 (1)

IMG_4283

IMG_4449

IMG_4466

IMG_4435

IMG_4318

IMG_4439

SNZQ4111

NUOT8170

Seusai berendam, kami pun melanjutkan destinasi. Tiba-tiba aku berpikir, sepertinya jalan-jalan mengarungi sungai dengan perahu boat lebih seru daripada pergi ke Air terjun. Setelah bermusyawarah sedikit akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri liburan di Tangkahan dengan berkeliling sungai menggunakan perahu boat.  Untuk menikmati hal tersebut ternyata kami harus sedikit bersabar dulu, sebab sepertinya “Wak Boat” tak kunjung tiba. Sambil menunggu kedatangan Wak Boat kami pun berendam di tepi sungai. Lama berselang tampaknya Wak Boat belum menampakkkan batang hidungnya juga. Akupun  sempat berpikir apa mungkin Wak Boat itu libur hari ini layaknya pegawai kantoran ?

Hingga diujung penantian kami, akhirnya muncul juga sesosok pria berkulit gelap yang kami sebut Wak Boat. Tadinya kami menduga kalau harga sewa boat untuk berkeliling sungai itu mahal, ternyata kami hanya merogoh kocek Rp.10.000/orang. Mendengar harga tersebut kami pun senang sekali dan langsung melompat keatas boat.

IMG_4467
Bakpao kali bah mukakku 😀
LXCU9951
Dari kiri : Basril, Dedi, Aku, Memet

IMG_4478

IMG_4472

Tepat pukul 12 siang, setelah mandi dan mengemas barang-barang kami pun bersiap-siap untuk pulang ke Medan. Sebagai info, total pengeluaranku di Tangkahan mulai dari transportasi, konsumsi, penginapan, dan lain-lain hanya sekitar Rp.300.000, murah bukan ? Hhhehe

Suatu saat aku ingin kembali lagi kesana. Mungkin dengan mereka lagi, dengan kawan-kawan yang lain, dengan keluarga, atau mungkin dengan pasangan seru juga, itu juga kalo ada sih. Hhhehe

Pelajaran yang bisa aku petik saat liburan ini adalah uang bukan jadi penghalang untuk jalan-jalan, kamu tetap bisa menikmati liburan jika kamu bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Apalagi jika dibarengi dengan travelmate yang menyenangkan, maka liburanmu akan terasa lebih memuaskan.

Semoga kalian menikmati cerita travelingku kali ini, aku tunggu komentarnya ya teman.

Terimakasih 🙂

 

 

 


19 respons untuk ‘Liburan Irit di Tangkahan, Kawasan Ekowisata di Kabupaten Langkat

  1. Apa ini? Wisata komplit tapi cuma kena Rp 300rb? Alamak -_-

    Tapi beneran mantap bang. Sepertinya juga cukup sepi. Btw heran juga mandiin gajah bisa lebih mahal daripada naik gajah haha

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.