Blogger Medan Menikmati Pasar Malam, Hiburan Rakyat yang Mulai Terpinggirkan

4 Maret 2018

Malam itu aku dan kawan-kawan dari Komunitas Blogger Medan sepakat untuk berkunjung ke Pasar Malam yang berada di kawasan MMTC Pancing, Kota Medan. Setelah mandi dan bersiap-siap aku pun bergegas dari kos menuju lokasi tujuan. Aku memacu sepeda motorku sedikit lebih kencang karena takut terlambat dan membuat kawan-kawan lain kesal. Tiga puluh menit berselangaku pun sampai di parkiran, tiba-tiba seorang pria berbadan gelap langsung menghampiriku, dari gelagatnya sudah bisa aku tebak pasti dia Tukang Parkir. Dia pun menyerahkan selembar kertas parkir berwarna kuning, disitu tertulis angka Rp.3000 dan aku harus membayar parkir diawal. Beruntung saat itu muncul seorang pria yang juga ingin memarkirkan kendaraannya, sehingga saat Abang Parkir itu sibuk meladeni orang itu aku pun segera ambil langkah seribu meninggalkan parkiran. Kan lumayan uang tiga ribunya untuk beli indomi di akhir bulan. šŸ˜€

Bisa dibilang sudah sangat lama aku tidak ke Pasar Malam, saking lamanya aku sampai lupa kapan terakhir berkunjung kesana, mungkin pas SMP atau SMA gitu lah. Sebenarnya bukan karena aku gengsi, tapi aku cukup kesulitan mengajak kawan-kawan lain supaya mau menikmati wahana-wahana yang ada disana. Di era yang serba canggih dan modern ini, minat dan gaya hidup masyarakat pun berubah sehingga hiburan rakyat seperti Pasar Malam pun mulai terpinggirkan. Aku bersyukur kawan-kawan di Blogger Medan ternyata gengsinya tidak tinggi šŸ˜€

Beranjak dari parkiran aku memasuki area Pasar Malam, aku sadar ternyata aku belum makan malam, tadinya aku ingin menjatuhkan pilihan kepada nasi goreng untuk mengatasi rasa laparku ini, tapi setelah aku perhatikan sekeliling tampaknya tidak ada stand makanan yang menjual makanan favoritku tersebut, akhirnya akupun memilih takoyaki sebagai menu pengganjal perut yang kosong ini. Harganya juga cukup murah, cuma Rp. 5000/ porsi yang isinya 5 buah. Bisalah untuk mengganjal perut šŸ˜€

IMG_4695
Takoyaki ala Pasar Malam

Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Aku dan kawan-kawan lain pun berkumpul di satu titik. Kami pun mulai memutuskan untuk memilih jenis wahana apa yang pertama harus dicoba. Dan sepertinya tantangan Perahu Kora-Kora begitu menggoda sehingga sayang jika harus dijadikan pilihan kedua, harga tiketnya sangat murah, cuma Rp.5000. Setelah semuanya duduk di bangkunya masing-masing, perahu mulai bergerak. Pertama-tama kami diayun pelan-pelan, tapi tak lama kemudian perahunya bergoyang lebih cepat dan makin kencang. Keadaan yang tadinya tenang berubah menjadi lebih riuh, teriakan-teriakanyang memekik mulai terdengar bersahutan dan kepalaku mulai terasa pusing. Aku perhatikan yang paling kegirangan dan teriakannya paling keras adalah Rudi Hartoyo, founder medanwisata.com, kebetulan ia duduk di sampingku. Mungkin karena malam itu ditemani istri tercinta ya makanya ia sebahagia itu :D.Ā  Entah hanya pura-pura atau realita aku juga tidak tahu, yang jelas suasana mencair dan pecah di atas Perahu Kora-Kora tersebut. Sehingga teriakan kami pun menarik perhatian orang-orang sekitar.

IMG_4753[1]
Sorry Agak Blur šŸ˜€
IMG_4760[1]

15 menit pun berlalu, usai berjuang melawan goncangan Perahu Kora- Kora berbentuk Naga Hijau tersebut, kami menuju wahana selanjutnya yang merupakan ikon dari setiap wahana-wahana atau tempat rekreasi yang ada di dunia, yaitu Bianglala. Awalnya aku tidak terlalu tertarik untuk menaiki wahana yang sekilas bentuknya mirip kincir angin itu, selain karna tidak begitu tinggi, mungkin tingginya hanya sekitar 15 meter saja, juga disebabkan oleh kepalaku yang sudah pusing dan perut yang sedikit mual sisa dari Perahu Kora-Kora tadi, tetapi sejenak aku berpikir kalau melihat pemandangan Pasar Malam dari puncak Bianglala sepertinya asyik juga. Setelah membayar karcis seharga Rp.5000, kami pun memasuki gondola yang luasnya tidak berbeda jauh dengan bak Becak yang ada di Medan. Hanya beberapa dari kami yang ikut menikmati wahana yang pertama kali dirancang oleh George Washington Gale Ferris Jr tersebut. Kebanyakan sudah angkat tangan mungkin karena pusing dan mual juga šŸ˜€

Bianglala pun berputar berlawanan arah jarum jam. Baru beberapa detik kincir berputar aku tiba-tiba teringat sebuah film Hollywood berjudul Final Destination, mungkin sebagian sudah tahu bahwa sekuel ketiga dari film tersebut berlatar Taman Hiburan, karena sebuah kecerobohan akhirnya seluruh penumpang wahana Roller Coaster tewas dengan cara yang sangat tragis. Mendadak aku jadi merasa ngeri sendiri membayangkan seandainya hal tersebut menimpa kami. Tak lama lamunanku pun buyar, kini kami berada di gondola kami berada di puncak kincir. Meski tingginya tidak seberapa, namun pemandangan sekitar Pasar Malam dari atas cukup membuatku puas. Terlintas sebuah ide di benakku, mungkin melihat sunset dari sini pasti lebih seru, apalagi jika Bianglalanya lebih tinggi lagi. Aku jadi terbayang hamparan senja yang menyapa dengan warnanya yang menyala indah.

IMG_4724[1]

IMG_4735[1]

Tak lama kemudian, kami pun selesai dengan wahana Bianglala. Suasana semakin ramai, wahana-wahana semakin padat. Ada banyak wahana yang dapat dinikmati di Pasar Malam ini, selain Perahu Kora-Kora dan Bianglala, ada Tong Stand, Komedi Putar, Mandi Bola, Lempar Botol, dan masih banyak lagi. Tapi dari sekian banyak wahana, aku sama sekali tidak melihat wahana Rumah Hantu yang biasanya juga jadi Primadona Pasar Malam. Sangat disayangkan menurutku, padahal pasti lebih seru jika beramai-ramai dengan kawan mencoba wahana menyeramkan tersebut.

IMG_4708[1]

IMG_4718[1]

IMG_4733[1]

Tak terasa waktu sudah berada di angka 9.30 malam. Jalan-jalan pun selesai sampai disini. Beberapa diantara kami ada perempuan, kurang eloklah dipandang jika seorang anak gadis pulang terlalu malam. Kami segera bergegas menuju rumah atau kosnya masing-masing.

Aku cukup senang setelah belasan tahun lamanya akhirnya bisa juga mengunjungi Pasar Malam yang merupakan Pertunjukan Legendaris di Indonesia ini. Aku tidak tahu sampai kapan hiburan rakyat ini akan bertahan ditengah derasnya gempuran wahana-wahana permainan modern yang ada. Aku berharap agar Pasar Malam ini terus menunjukkan eksistensinya, bukan karena aku tidak setuju dengan adanya tempat rekreasi modern. Tapi Pasar Malam adalah solusi bagi masyarakat ekonomi menengah kebawah dan menjadi bukti bahwa hiburan adalah milik kita bersama, bukan cuma milik kalangan ekonomi menengah keatas saja.

Jadi kalian kapan ke Pasar Malam nih ?

Mumpung masih malam, kalau siang udah tutup šŸ˜€


22 respons untuk ā€˜Blogger Medan Menikmati Pasar Malam, Hiburan Rakyat yang Mulai Terpinggirkanā€™

  1. ah, pasti seru yah bang, apalagi sama temen2 juga..
    di tempatku sudah jarang, sekalipun ada, biang lalnya tidak tinggi, juga permainan lain juga tak begitu menarik.. paling banyak yang jualan ketimbang permainannya.
    dulu aku suka lihat yang motor cross di kendarahi di tempat berbentuk bundar, aku lupa namanya

    Disukai oleh 1 orang

  2. Suka quote yg akhir “mumpung masih malam kalau siang udah tutup” wkwkwk..
    Ini pas kali sekarang di daerah rumah kami ada pasar malam. Terakhir ke pasar malam tahun lalu naik bianglala hape awak jatuh karena dikantongin di gamis. Alhamdulillah masih rezeki ditemuin sama operator bianglalanya šŸ˜‚

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hhhahha.. iya mbak.. kalo siang bukan pasar malam namanya.. šŸ˜‚

      Baik kali operatornya itu mbak.. jarang2 tu yg kayak gitu.. šŸ˜‚

      Makasih udah berkunjung mbak.. šŸ˜

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.