Jelajah Takengon, Negeri Diatas Awan Di Kabupaten Aceh Tengah

29 Maret 2018

Bus melaju dengan kecepatan sedang menembus malam yang gelap, suasana jalan lintas tidak begitu padat waktu itu. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 5 subuh, roda Bus berhenti di simpang Matang Glumpang 2 Kabupaten Bireuen. Di titik ini aku akan bertemu pertama kalinya dengan Rama, seorang pemuda yang direkomendasikan oleh rekan kerjaku untuk menemaniku menjelajahi sebuah kota di kawasan Aceh yang terkenal dengan kopi dan dinginnya sejuknya, yaitu Takengon.

Setelah turun dari Bus, aku segera menghubungi Rama via WhatApp. Beberapa detik berselang ternyata chat  yang aku kirim belum masuk juga alias pending, akhirnya aku pun meneleponnya, dan aku baru sadar kalau ternyata pulsaku juga habis, mau beli pulsa toko pun masih tutup semua.

“ Mampuslah, dibegal orang pulak lah aku nanti ini,” bisikku dalam hati.

Keadaan jalanan  pagi itu sangat sepi, hanya sesekali ada Bus atau mobil pribadi yang lewat, ditambah hari yang masih gelap gulita, rasa cemas pun menghampiri. Beruntung tidak jauh dari persimpangan jalan sepertinya ada sebuah Mesjid, aku pun melangkah kesana karena kebetulan waktu shalat subuh juga sudah dekat. Sehabis melaksanakan shalat aku kembali mengecek ponsel, dan ternyata chat yang aku kirim ke Rama dari tadi belum masuk juga. Akhirnya aku putuskan untuk berdiam di Mesjid tersebut sembari menunggu hari terang.

IMG_5031

Jarum jam berada di angka 8, usai sarapan aku kembali mengecek ponsel, dan nyatanya chat itu belum masuk juga, lalu aku perhatikan di sekitar jalan belum ada juga Kios Pulsa yang buka. Akhirnya tanpa pikir panjang dan sedikit menahan malu, aku pun menelepon Rama dengan harapan dia masih punya pulsa dan mau menelepon balik. Selang beberapa detik tampaknya ada telepon masuk, dan setelah aku jawab ternyata itu dari Rama. Alhamdulillahhh aku aman. Hhhehe

Usai berjumpa dengan Rama, pemuda kurus itu pun mengajakku ke kos-kosannya untuk istirahat sejenak sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Takengon. Untuk melepas lelah aku pun  tiduran di sebuah ruang tamu seluas 4×6 meter dengan dinding beton dan lantai terbuat dari semen tanpa keramik tersebut sambil mengisi daya baterai ponselku yang udah sekarat. Dua jam berlalu, sehabis mandi dan berkemas aku dan Rama berangkat menuju negeri diatas awan tersebut  dengan sepeda motor.

Rama mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang. Aku heran jalanan begitu sepi padahal hari Jumat itu adalah libur panjang. Hal ini sangat beda jauh dengan kondisi lalu lintas yang ada di Medan, biasanya kalau libur panjang seperti ini lalu lintas arah Medan – Berastagi atau arah Medan – Parapat pasti macet. Sementara lalu lintas menuju Aceh terlihat lengang.

XWOM5377

IKDG4349

Aku jadi berpikir mungkin beban kerja di kota Medan begitu berat sehingga warganya menjadi haus dengan yang namanya liburan, pantang libur sedikit pasti langsung pergi liburan. Entahlah mungkin itu hanya perasaanku saja. Hhehehe

Di tengah perjalanan Aku dan Rama sempat singgah sebenar di sebuah tebing yang disebut Cot Panglima. Aku pun segera mengeluarkan kameraku untuk mengabadikan pemandangan alam nan hijau yang terpampang indah dari atas tebing tersebut.

NGPO7061

OEEB0554

10 menit berlalu, sepeda motor kembali melaju. Cuaca yang tadinya cerah perlahan mulai mendung, tak lama berselang rintik hujan mulai turun dan lama kelamaan semakin deras. Aku dan Rama kemudian mencari tempat untuk berteduh, lalu singgahlah kami di sebuah Mesjid di pinggir jalan. Rama pun tersadar kalau ternyata ia lupa membawa mantel. Sehingga mau tidak mau kami harus menetap dulu sementara di Rumah Allah tersebut. Waktu telah menunjukkan pukul 12.30 siang, hujan pun tak kunjung reda. Akhirnya kami pun melakukan ibadah Sholat Jumat disana. Alhamdulillah Allah telah mengabulkan doaku, usai Shalat Jum’at hujan pun berhenti. Tanpa pikir panjang kami pun segera bergegas menuju Takengon.

Awan mendung pun mulai menemani sisa perjalanan kami yang sesekali disertai oleh rintik hujan. Sekitar jam 3 sore tibalah kami di Kota Takengon, dan destinasi wisata yang pertama kami kunjungi adalah sebuah area perbukitan yang dinamakan Pantan Terong. Jalanan yang menanjak memaksa sepeda motor matik yang kami naiki harus bekerja sedikit lebih keras. Untungnya kondisi jalan disini sudah diaspal dan cukup lebar sehingga tidak berbahaya dan dapat  diakses oleh mobil pribadi.

Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Akhirnya kami sampai di kawasan wisata Pantan Terong. Sebelum masuk ke dalam kami harus membayar retribusi dulu seharga Rp. 15.000, itu sudah termasuk parkir dan biaya masuk untuk dua orang. Hal pertama yang membuat aku terkesan adalah tidak ada satu pun sampah yang berserakan disini, semuanya bersih dan tertata rapi. Cuaca yang dingin ditambah semilir angin pun membelai badanku yang hanya mengenakan kaos, awalnya aku ingin mencoba menantang cuaca, namun akhirnya aku harus mengalah dan memakai  sebuah sweater untuk menahan hawa dingin yang cukup hebat disana.

AHTJ0780

RFFB7426

Puncak Pantan Terong ini dikelilingi oleh perbukitan yang asri dan hijau sehingga memanjakan mata siapapun yang memandangnya. Berlokasi di Desa Ulu Nuih, Kecamatan Bebesan, salah satu spot wisata kota Takengon ini menyuguhkan panorama Danau Laut Tawar dari kejauhan. Objek Wisata ini cukup ramai dikunjungi oleh para wisatawan, baik dari Takengon, maupun luar Takengon. Disini juga terdapat sebuah Warung Kopi yang menyediakan Kopi asli Gayo, Aku pun menyeruput segelas Espresso dan Rama memilih secangkir Cappuccino sambil menikmati suasana alam yang begitu tenang dan damai. Bukan hanya minum kopi, buat para pengunjung yang lapar juga bisa mengisi perut di Warkop bernama Kenik ini, cuma sayangnya disini cuma ada Pop Mie. Jadi sebaiknya sebelum kesini sebaiknya beli makanan dulu di luar jika memang tidak begitu menyukai micin-micinan. Hhhehe

EIMC3225KOEU6320

BOEK8582

HCIK5922

NZBP8865

KKJG2936

XDNH9307

YBTN9088

HLPY9088

Tak terasa dua jam berlalu. Hari semakin sore dan kami harus bergegas menuju pusat kota untuk bermalam. Namun sayangnya ditengah perjalanan kami dihadang oleh hujan yang sangat deras, berhubung mantel tidak ada maka mau tidak mau kami harus berteduh sejenak di teras rumah salah satu warga. Setelah hampir satu jam akhirnya hujan pun reda dan kami kembali melanjutkan perjalanan. Sesampainya di pusat kota yang terkenal dengan Kopi Gayonya tersebut kami singgah sebentar di sebuah Mesjid untuk menunaikan Sholat Maghrib. Awalnya Aku dan Rama berencana untuk menginap di Mesjid tersebut, tapi ternyata pengurus mesjid tidak memperbolehkan kami untuk tidur disana. Kalo boleh kan lumayan buat menghemat biaya. Hhehe

ALFS4447

Setelah mendapat penolakan dari pihak Mesjid, akhirnya kami pergi mencari hotel yang murah di Kota Takengon. Satu persatu penginapan pun kami datangi, mulai dari yang memakai nama “ Hotel”, “Wisma”, sampai “Guest House”. Setelah lelah keliling kota mencari tempat menginap yang murah, kami hampir menyerah karena rata-rata harga sewa hotel disana berkisar Rp. 150.000 keatas. Sementara harga yang kami inginkan adalah maksimal Rp.100.000. Diujung rasa putus asa tersebut akhirnya Allah menunjukkan secercah harapan kepada kami. Mataku menangkap sebuah baliho kecil berwarna kuning bertuliskan “ Arizona Guest House” bertengger di pinggir jalan yang terhimpit oleh sebuah baliho besar. Tanpa pikir panjang kami pun menuju kesana. Tadinya kami pesimis karena melihat dari bentuk bangunan Guest House tersebut tidak pasti harga sewanya sekitar dua ratus ribuan, namun akhirnya kami memberanikan diri untuk menanyakannya ke dalam. Dan ternyata dugaan kami salah, meski bentuk bangunannya terkesan sedikit mewah, tapi nyatanya harganya sangat murah. Untuk kelas Premium saja harga yang ditawarkan hanya Rp. 150.000/ malam. Sedangkan kami lebih memilih kelas standar seharga Rp.100.000/malam. Dan menurutku itu adalah harga yang sangat murah, melihat kondisi kamarnya memiliki fasilitas yang cukup lengkap.

EYQD8274

HWBI9454

OKFY0810

QFBH6735

WKUR9489

 

AXSV4896

AEOV7798

RQXQ8589

Keesokan harinya, Aku dan Rama bangun dengan badan yang segar karena cuaca yang dingin membuat tidur kami sangat nyenyak. Dari balik jendela kamar aku melihat matahari begitu cerah, barisan perbukitan yang mengitari kota ini terlihat ditutupi oleh kabut, maka tak heran jika Takengon dijuluki negeri diatas awan, sebab fenomena yang aku lihat pagi itu membuktikan semuanya.

LAEK5677

Sekitar pukul 8 pagi, sehabis mandi dengan air sedingin es kami kembali melanjutkan penjelajahan kami ke destinasi wisata yang menjadi ikon Kota Takengon, yaitu Danau Laut Tawar. Jarak antara Hotel dan Danau tersebut tidak begitu jauh, cukup ditempuh dengan waktu sekitar 20 menit. Suasana disini begitu tentram, hawanya begitu sejuk, tidak ada kemacetan lalu lintas, tempat yang sangat cocok bagi yang ingin menenangkan diri dan menjernihkan pikiran dari hiruk pikuk perkotaan. Buat yang ingin bulan madu juga pas, cuacanya dingin-dingin gimana gitu. Hhhehe

ODHG7085

KRTV5834

XRXI0144

MYYS3551

OXAF3052

Aku dan Rama pun berhenti di sebuah tebing yang tepat menghadap Danau Laut Tawar. Danau yang merupakan ikon kota Takengon ini memiliki luas 5.472 hektare dengan kedalaman 50 meter. Airnya sangat tenang, hamparan bukit barisan yang mengitari membuatnya semakin eksotis, kicauan burung-burung menambah suasana teduh nan damai. Tidak puas hanya memandang dari atas tebing, kami mencoba untuk turun ke pinggir danau untuk menikmati ciptaan Tuhan tersebut lebih dekat. Sialnya kami tidak membawa tenda saat itu, padahal spotnya sangat cocok untuk dijadikan tempat camping bersama. Sekilas Danau ini memang mirip dengan Danau Toba, bedanya mungkin disini lebih sejuk dan sepi, sayangnya pemerintah setempat kurang mengembangkan potensi wisata yang dimilikinya, padahal aku yakin jika Danau Laut Tawar ini mampu menjadi Objek Wisata yang dapat bersaing dengan Danau Toba.

ODAV8978

QUTN6679

VYKZ5033

XEJE3963

QAGZ7333

TBUC2388

LBCN3670

Tidak jauh dari Danau juga terdapat sebuah goa yang menyimpan sebuah mitos bagi warga setempat. Singkat cerita konon ada seorang putri Raja yang bernama Putri Pukes yang menikahi seorang pemuda dari negeri seberang, saat akan meninggalkan Kerajaan orangtua sang Putri berpesan agar tidak menoleh ke belakang saat melangkahkan kaki keluar Kerajaan. Namun sayangnya karena terlalu sedih dan teringat kepada Ayah dan Ibunya tanpa sengaja Putri Pukes pun menoleh ke belakang, seketika muncullah petir yang menyambar disertai angin puting beliung dan hujan yang lebat. Putri dan pengawalnya pun melindungi diri dalam sebuah Goa. Perlahan tubuh putri pun mengeras, ia pun terkejut dan menangis. Menurut Penjaga Goa ini sekitar tahun 1990 patung Putri Pukes masih terlihat jelas seperti sedang bersujud, namun seiring berjalannya waktu stalakmit dari atas Goa terus berjatuhan ke Patung tersebut, jadi bentuknya sudah tidak begitu jelas. Sayangnya saat itu kamera belum booming seperti sekarang, dan juga wisatawan belum banyak yang berkunjung kesana sehingga tidak ada dokumentasi berupa foto yang menggambarkan bentuk awal Patung Putri Pukes. Terlepas dari benar tidaknya legenda ini, kita dapat mengambil sebuah hikmah bahwa sebagai anak kita tidak boleh sekalipun mengabaikan nasihat dari Orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan kita.

RMKB6027

 

AGEG7915
Patung yang konon katanya adalah jelmaan Putri Pukes

 

VBAK5343
Foto bareng berhala yang disembah oleh para penganut animisme zaman dahulu.

KWNF3913

Setelah puas menikmati keelokan Danau Laut Tawar dan mendengar legenda Putri Pukes. Kami meneruskan langkah menuju objek wisata Bur Telege, akses jalan menuju tempat wisata ini cukup menanjak karena wilayahnya berada pada ketinggian 1250 mdpl,  tapi tidak perlu khawatir karena jalannya sudah diaspal baik sehingga bisa dilalui oleh motor ataupun mobil. Setelah menempuh waktu sekitar 30 menit sampailah kami di objek wisata yang mengusung konsep “kekinian” ini. Selepas membayar tiket masuk seharga Rp.2500 kami mulai memasuki kawasan wisata yang mulai hits setahun belakangan ini. Dari area parkir kami harus berjalan menanjak lagi sejauh 100 meter. Destinasi wisata yang berada di Kampung Hakim Bale Bujang, Kecamatan Laut Tawar ini ini letaknya berdampingan dengan Danau Laut Tawar, jadi dari sini kami juga bisa melihat pesona danau dari atas. Kebetulan karena pas weekend, banyak orang yang mengunjungi tempat ini. Banyaknya pohon pinus yang tumbuh dan alam yang asri membuatnya menjadi pilihan yang tepat untuk melepas penat dan bersantai dengan keluarga. Tidak lupa pihak pengelola Bur Telege juga menyediakan spot-spot berswafoto yang tentunya menambah keunikan dan pengalaman tersendiri bagi wisatawan yang datang. Satu hal lagi yang menambah poin plus Bur Telege bagiku adalah kebersihan tempat ini yang sangat terjaga dengan baik.

 

LCTS1616
Kondisi jalan menuju Objek Wisata Bur Telege

RVSE6956

AYPK1770

EFSX0745

GENZ3381.JPG

CVTP4235

 

 

RHGL2712
Dilarang Melakukan Khalwat ( Zina ) 😀

EBMQ7604

DCTJ8086

BYQG1842

VJYK5503.JPG

XTTU8014.JPG

VNWX9767.JPG

KDOM6095.JPG

OKMD9824

QROL8397.JPG

DRVW1083.JPG

HMHI4346.JPG

 

JPBX1789.JPG
Parkiran Sepeda Motor

 

PWQD7146.JPG
Parkiran Mobil

XPBX4705.JPG

 

KCEI4266.JPG
Coffee Shop Keliling

SSUK0528.JPG

APDE9789
Keindahan Danau Laut Tawar dari Puncak Bur Telege

Matahari semakin terik, jarum jam telah berada di angka 12 siang. Kami pun bersegera kembali hotel untuk mengemasi barang dan berangkat menuju destinasi liburan kami selanjutnya, yaitu Banda Aceh

Bagaimana kawan-kawan ? Kalian tertarik melancong ke Takengon ?

 

 

 

 


28 respons untuk ‘Jelajah Takengon, Negeri Diatas Awan Di Kabupaten Aceh Tengah

    1. Amin..

      Takengon memang satu2nya daerah di aceh yang cuacanya dingin om.. yang lainnya panas semua.. karna kebetulan teritorial Takengon yang berada di dataran tinggi..

      Yang paling aku suka suasana paginya yang berkabut..

      Hati2 om nanti jadi malas pulang.. 😁

      Suka

      1. Oke mas, insyaallah hehe😂😂

        Sama sama, makasih juga kunjungannya ke blogku yang masih berumur jagung inii,hehe😁😁

        Suka

  1. Ish enak kali ya bang, ngiler kali baca n lihat2 fotomya.. awak dari kuliah dlu sampe skrg gak jadi jadi explore aceh dan sekitarnya.. Padahal ada abamg ipar di singkil.. Wkwkwk

    Dulu rencana tamat kuliah, eh gak bs krna kerja di jkt, yaudah abis tu rencana abis nikah, eh abis nikah hamil pnya anak satu, abis ounya anak satu, eh mau punya anak dua.. Wkwkwk

    Doain ya bang, biar bisa ke Takengon jg, ngiler soalnya.. Hehe

    Suka

  2. Lihat foto rute perjalanan yang ada tebing bukitnya agak ada kemiripan dengan rute ke daerah Wonosari, tempat lokasi deretan pantai eksotik.

    Keren ya view danaunya.
    Legendanya juga bagus disimak, meski rada takut juga bacanya karena akibat kutukan.

    Disukai oleh 1 orang

      1. Asli orang Medan? Menurut pengamatan saya sih gitu, soalnya postingan anda berbau kota Medan terus, setiap penulis pastilah menuliskan latar tempat ataupun keadaan lingkungan tempat tinggalnya, tapi ada juga yang karena punya pengalaman di kota tersebut jadi sering kali dia menyebut nyebut kota yang terkenang menurutnya.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.