Singgah sebentar di Masjid Agung Kisaran, Masjid Termegah di Sumatera Utara

Siang itu kami baru saja menghadiri undangan pernikahan seorang teman kerja. Waktu tempuh 4 jam dari Medan ke Tanjung Balai pun dilakoni demi menyaksikan momen bahagia teman kami tersebut.  Sekitar jam 2 siang kami sudah meninggalkan acara dan bergegas pulang kembali ke Medan. Padahal aku masih ingin berlama-lama disana, karena aku tertarik melihat aksi berbalas pantunnya, kebetulan pernikahannya mengusung adat melayu. Kami pun berangkat, rombongan kami ada dua mobil, sialnya aku justru berada di mobil yang tidak punya AC Double Blower, bayangkan betapa panasnya di dalam itu. Sementara teman-teman yang  menaiki mobil satunya tampaknya sangat bergembira sambil berkaraoke ria, hal itu terlihat dari Instastory mereka. Bersenang-senang diatas penderitaan orang itu tidak baik kawan… Hhahaha

IMG_2716
Tradisi berbalas pantun saat pernikahan adat melayu

Mobil sudah tidak memiliki fasilitas AC double blower, ditambah lagi cuaca kota Tanjung Balai yang begitu menyengat. Alhasil Aku, Agus, dan Muhsin yang terjebak di bangku paling belakang pun terkulai lemas, energi kami seakan terhisap ke udara, tubuh tak berdaya kami perlahan terasa mengering layaknya ikan asin. Para wanita yang duduk manis di depan kami memang telah membuka kaca mobil, tapi hanya sebentar, sepertinya  mereka takut debu-debu jalanan itu merusak di wajah mereka yang mulus. Akhirnya kami pun harus mengalah dan pasrah menunggu suratan takdir kami selanjutnya. Karena apapun ceritanya, wanita tidak akan pernah salah… Hhehehe

Dua jam berlalu kami pun telah jauh meninggalkan kota Tanjung Balai. Kini kami memasuki kota Kisaran, cuaca yang tadinya begitu terik sekarang  mulai berkurang. Kami yang duduk di jok belakang semakin kepanasan, dengan sisa-sisa tenaga berharap semoga mobil berhenti sebentar agar kami bisa menghirup nafas dengan bebas kembali. Allah pun mendengarkan doa-doa kami yang teraniaya ini, mobil berhenti di Warung Indomi Pak Ismail yang katanya cukup terkenal di Kisaran. Yaelah jauh-jauh dari Medan makan mecin lagi makan mecin lagi… Hhhaha

IMG_2800

IMG_2826

IMG_2804
Makan Bang 😀

IMG_2799

Selepas mengisi perut perjalanan pun berlanjut. Tidak jauh dari Warung Indomi Pak Ismail ada sebuah Mesjid yang berdiri begitu megah, orang-orang biasa menyebutnya Mesjid Agung Kisaran. Awalnya kami tidak berencana masuk kesini, namun karena kebetulan kami belum Sholat Ashar, jadi sekalian ajalah. Mana tahu jumpa jodoh juga ya kan… Hhhaha

Mesjid Agung Kisaran, sesuai dengan namanya Mesjid ini sangat megah. Halamannya yang luas juga difungsikan sebagai taman kota, sekelilingnya juga ditumbuhi rerumputan dan pohon-pohon kecil yang ditata rapi sehingga menambah keindahan Masjid yang nama sebenarnya adalah Masjid Agung H. Ahmad Bakrie, Ayah dari Abu Rizal Bakrie. Pembangunannya pun bertujuan sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang H. Ahmad Bakrie.

IMG_2890

IMG_2927

Setelah memarkirkan mobil, kami pun menuju ruangan mesjid yang berlokasi di Jalan Lintas Sumatera, Desa Sidomukti, Kota Kisaran, Prov. Sumatera Utara ini. Mesjid Agung Kisaran ini ternyata memiliki tiga lantai, lantai 1 berfungsi sebagai kantor pengurus mesjid dan juga tempat wudhu, sedangkan lantai 2 dan 3 digunakan sebagai ruang sholat utama. Toilet dan tempat wudhu sangat bersih dan sudah menggunakan keramik. Memasuki lantai 2 aku semakin semakin takjub dengan desain dan arsitektur mesjid yang dibangun pada tahun 2011 ini. Meski di luar sangat panas tapi udara di dalam mesjid ini sangat segar, padahal setelah aku amati tidak ada satu pun AC yang terpasang di dinding Mesjid Agung ini, hanya ada puluhan kipas angin yang menggantung di setiap sudut ruangan dan masing-masing tiang penyangga. Aku rasa hal ini terjadi mengingat banyaknya jendela berjejer yang  berfungsi sebagai saluran sirkulasi udara di dalam masjid sehingga kadar oksigen di dalam ruangan tetap terjaga dengan baik. Kok agak berat gini ngomongnya ya… Hhhaha

IMG_2892

IMG_2909IMG_2917

IMG_2919

Bentuk dari Mesjid Agung Kisaran ini berdenah persegi empat dengan masing-masing menara yang dibangun menjulang tinggi di tiap penjurunya. Tidak lupa satu buah kubah besar bercincin warna kuning keemasan yang diletakkan di tengah atapnya. Jika aku lihat sekilas, Masjid Agung Kisaran ada kemiripan dengan Taj Mahal di India, bedanya jika Taj Mahal didominasi oleh warna putih, sedangkan Masjid ini mengusung warna putih dan kuning khas Melayu. Mudah-mudahan suatu saat bisa juga menyambangi monumen kebanggaan rakyat India tersebut. Amin

IMG_2907

IMG_2903

Selain digunakan sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Kisaran ini juga dijadikan tempat wisata religi bagi para wisatawan. Di belakang Masjid ini juga telah dibangun Pusat Pendidikan Tahfidz Kabupaten Asahan. Halamannya yang luas juga menjadi daya tarik masyarakat sekitar untuk sekedar jalan-jalan santai menghabiskan waktu sore. Kemudian dengan desain yang unik dan megah, siapapun yang datang berkunjung kesini pasti ingin mengabadikan Masjid yang dalam pembangunannya menghabiskan dana sekitar Rp.68 milyar ini lewat lensa kamera.

IMG_2896

IMG_2963
Payah bilanglah kalo wanita-wanita ini 😀

IMG_2933

Sebagai seorang Muslim tentu aku sangat bangga jika ada masjid semegah berdiri dengan begitu gagah. Tapi kita juga jangan sampai mengesampingkan fungsi utama dari Mesjid itu sebagai tempat ibadah. Jangan hanya terpaku dengan keindahannya saja, perbanyaklah sembah sujud di dalamnya sebagai wujud kecintaan kita kepada Allah Sang Maha Pencipta.

IMG_2958

IMG_2947

Hari semakin sore, sebenarnya aku masih ingin berlama-lama sembari menikmati senja yang perlahan mulai menunjukkan pesonanya. Tapi sayangnya kami harus segera beranjak menuju Medan agar tidak terlalu larut malam tibanya disana. Cemanalah yang dibawak kebanyakan mamak-mamak sama anak gadis, jadi agak susah  dibawak ke tengah ya kan… Hhhehe

Kek gitu ajalah kurasa ya, aku tunggu komentar dari kawan-kawan, biar bagi-bagi pengalaman dulu kita ya.. 😀

Nb : Semua foto menggunakan kamera canon eos m100


14 respons untuk ‘Singgah sebentar di Masjid Agung Kisaran, Masjid Termegah di Sumatera Utara

  1. Wah, baru tahu aku ada tradisi berbalas pantun seperti itu, pasti seru sekali..

    Wkwk berada dlm sebuah kendaraan yg tak ber AC memang membuat teraniaya, teman saya pernah dari Semarang ke Gresik dg bus tak ber AC, entahlah mgkin pulang” dia udah jadi mendoan.. wkk

    Suka

  2. Ada lho bangunan yang juga tanpa AC, tanpa kipas angin, nggak banyak jendela bahkan nggak ada, tapi tetep sejuk berkat desain arsitekturnya atau bisa juga karena lokasi.

    Btw monmaap nih bang, kayaknya agak berlebihan kalau dibilang mirip Taj Mahal, karena desain kubahnya juga berbeda. Tapi doanya aku aminkan :D.
    Udah pernah ke Masjid Raya Pekanbaru? Itu juga mirip, bang.

    Suka

  3. wah, awak lumayan sering lewat kisaran tapi belum pernah pula mampir ke masjid itu, nanti lain waktulah kalau apa mampir ke masjid itu, hihihi, jadi nanti acara abang ada balas pantunnya juga engga?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.