Pengalaman Pertamaku Naik Pesawat

Bagi kalangan ekonomi atas bepergian dengan pesawat mungkin hal yang biasa, namun bagi sebagian besar kalangan menengah ke bawah hal ini justru menjadi sesuatu yang mahal. Sama halnya dengan aku yang memang terlahir dari keluarga dengan ekonomi menengah, di saat orang lain mungkin sudah sering diajak orangtuanya merasakan liburan dengan menggunakan pesawat sejak kecil, justru aku baru bisa merasakan sensasi moda transportasi udara tersebut ketika usia sudah mendekati kepala tiga.. Hhahaha

Menyesal ? tentu saja tidak, aku justru sangat bersyukur sebab Allah masih masih memberikanku kesempatan untuk menikmati indahnya dunia yang telah Dia ciptakan dengan teramat sangat luar biasa ini.

Sebagai seorang yang gemar jalan-jalan, aku memang lebih sering menggunakan transportasi bus atau touring  dengan sepeda motor, itu pun masih di dalam area Pulau Sumatera saja. Niat untuk mencoba traveling ke luar Pulau Sumatera pun muncul beberapa waktu lalu ketika aku sudah boleh mendapatkan jatah cuti ku untuk pertama kalinya. Peraturan di kantor ku memang memperbolehkan karyawannya untuk cuti setelah 15 bulan masa kerja dulu, jadi bisa dibilang liburan ini adalah sesuatu yang sudah sangat lama aku tunggu-tunggu, makanya jangan ditanya lagi lah seberapa bahagianya aku, ibarat sudah lapar berhari-hari eh tiba-tiba ada sepiring nasi padang di depan mata, mungkin seperti itulah analoginya kawan-kawan. Hhhehe

Karena waktu cuti yang singkat, hanya seminggu saja,  aku harus bisa mengaturnya sebaik mungkin. Jadi untuk efisiensi waktu aku akhirnya memilih melancong ke Pulau Jawa dengan menggunakan pesawat saja. Ibukota Jakarta pun menjadi titik destinasi pertama ku di Pulau Jawa, sebenarnya tujuan utamaku adalah Yogyakarta, tapi tidak ada salahnya singgah sebentar menghirup udara kota megapolitan tersebut sembari bersilaturahim dengan seorang teman masa SMA ku yang sudah lama tidak bertemu.

Awalnya jujur aku memang merasa sedikit kebingungan mengenai proses reservasi tiket pesawat sampai dengan prosedur yang harus dijalani nantinya di bandara. Pasalnya keberangkatanku yang pertama kali ini aku hanya Solo Backpacker saja, tanpa ditemani siapa pun. Malu bertanya sesat di jalan, alhasil aku pun banyak bertanya dengan beberapa teman. Mereka sempat terkejut dan tertawa sih, sebab sebagai orang yang dikenal hobi traveling, mereka tidak menyangka kalau ternyata aku belum pernah naik pesawat sama sekali. Aku pun hanya bisa bersabar menerima ledekan dari mereka. Karena memang seperti itu lah kenyataannya. Oalahhh nasibb nasibbb… Hhhaha

400651984_IMG_4666

Hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba, tepat hari sabtu pukul 2 siang aku buru-buru pulang dari kantor. Sekitar pukul 3 siang sampai lah aku di kosan segera siap-siap untuk mandi. Aku memesan tiket untuk penerbangan jam 18.20 WIB, sementara waktu tempuh dari kos aku menuju Bandara Kualanamu itu mencapai 1,5 jam, aku pun berpikir masih bisa sedikit santai. Sebelumnya aku memang sudah sepakat untuk meminta bantuan seorang teman untuk mengantarkan aku ke Bandara, karena kalau menggunakan Bus takutnya aku ketinggalan pesawat sementara kalau memakai jasa taksi online tarifnya lumayan mahal, sekitar 185 ribu kalau aku tidak salah, makanya daripada uangnya melayang ke kantong orang lain, mending uangnya aku kasih ke teman ya kan, hitung-hitung pengiritan juga lah… Hhhehe

Waktu menunjukkan pukul 4 sore, tapi kawan itu belum juga menampakkan batang hidungnya, dia pun terlambat setengah jam dari perjanjian kami di awal. Aku pun mulai gundah, syukurnya tak lama berselang  si kawan pun datang sembari melempar senyuman tanda permintaan maaf. Tak mau berlama-lama lagi kami segera tancap gas menuju bandara. Selama perjalanan aku hanya bisa harap-harap cemas, semoga masih sempat check in dan tidak ketinggalan pesawat, kan rugi kali kalo tiket seharga Rp 750 ribu terbuang begitu saja… Hhhaha

Perasaan cemasku pun semakin menjadi-jadi, karena ternyata jalanan macet parah, kemacetannya pun di luar dugaanku sebelumnya. Waktu sudah berada di angka 5.30 sore, sementara aku masih terjebak diantara kerumuman kendaraan yang saling berhimpitan. Akhirnya aku hanya bisa pasrah di sisa perjalananku menuju Bandara tersebut dan bibirku pun tak henti berdoa, “ Ya Allah semoga pesawatnya delay.”

Tepat jam 8 akhirnya kami  tiba di depan Departure Terminal Bandara Internasional Kualanamu, dengan tergopoh-gopoh aku pun segera mencari loket check in  Maskapai Lion Air. Sebenarnya pihak bandara sudah menyediakan fasilitas self check in, tapi berhubung aku belum terlalu paham prosedurnya dan memang sedang terburu-buru makanya masih memakai jasa penjaga loket untuk melakukan check in.

Selepas check in, aku pun bergegas menuju Boarding Room, tapi sebelum itu aku harus melewati pemeriksaan keamanan dulu. Aku pun harus melepas seluruh barang-barang berbahan logam dari badanku, seperti jam tangan, ikat pinggang, telepon genggam, bahkan korek api gas ku. Ternyata demi keamanan bersama aku harus melalui proses rumit seperti ini. Kira-kira kalau punya behel bakalan di lepas juga ga tu behelnya ya ? Hhahaha

Sesampainya di Boarding Room, aku pun bersyukur dan lega. Pasalnya pesawatku ternyata Delay selama satu jam, akhirnya tiketku tidak jadi hangus. Aku pun merasa senang diantara orang-orang yang mungkin jengkel karena harus menunggu keberangkatan satu jam lagi. Hhahaha

Satu jam berlalu, seluruh penumpang pun diberitahukan untuk segera bersiap-siap menuju pesawat yang akan ditumpangi, penjaga gate juga tidak lupa mengarahkan kami untuk masuk melalui pintu depan atau belakang. Tiba di pintu masuk aku pun disambut dengan ramah dan penuh senyuman oleh pramugari-pramugari yang sudah pasti sangat cantik mempesona. Makan apalah orang ini bisa cantik-cantik gitu ya.. Hhahaha

Setelah semua penumpang duduk di tempat duduknya masing-masing, sebelum lepas landas para pramugari pun memperagakan cara menggunakan life jacket untuk antisipasi jika sewaktu-waktu keadaan darurat. Aku pun dengan serius dan seksama memperhatikan kakak-kakak pramugarinya, eh maksudnya memperhatikan cara penggunaan life jacketnya.. Hhhehe

Pesawat pun lepas landas, suasana kota medan malam hari pun terlihat begitu indah dari atas. Awalnya aku tidak merasakan perbedaan yang mencolok antara naik pesawat dan naik bus, hingga tak lama kemudian perbedaan itu pun mulai terasa. Mulai dari guncangan akibat turbulensi hingga telinga yang sedikit nyeri dan berdengung karena ketidakseimbangan tekanan udara di dalam telinga. Kondisi ini memang wajar terjadi, lama-kelamaan aku pun mulai bisa beradaptasi.

399540576_IMG_4672

Cuaca malam itu memang sedang buruk, hujan deras disertai petir yang saling bersahutan membuat pesawat semakin bergoyang. Sontak penumpang  banyak yang mulai panik, beberapa kali awak kabin pun menganjurkan penumpang untuk tetap tenang karena cuaca memang sedang buruk, bahkan seorang ibu di belakangku tak henti-hentinya melantunkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Aku juga tidak bisa tenang dalam keadaan seperti itu, mengingat tragedi kecelakaan Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan karawang sedang hangat-hangatnya. Malam itu di tengah kepanikan penumpang aku pun hanya bisa pasrah menggantungkan harapan kepada Allah saja.

Sebelum keberangkatan beberapa teman memang menyarankanku untuk tidak menggunakan Maskapai Lion Air dengan berbagai alasan. Tapi harus aku akui bahwa saat aku hendak mencari tiket, Lion Air merupakan maskapai yang berani menawarkan harga paling murah. Terlepas dari siapa yang salah dalam tragedi yang sedang gempar tersebut, yang namanya kecelakaan bisa saja menimpa siapa saja. Toh beberapa Maskapai Penerbangan lain juga pernah mengalami hal yang serupa, bagiku kecelakaan yang dialami oleh Lion Air hanya satu dari sekian banyak pendaratan yang berhasil dilakukan. Semoga Lion Air segera bangkit dari keterpurukan ini dan jangan bosan untuk terus membantu rakyat indonesia untuk terbang lebih mudah dan murah… 🙂

Akhirnya setelah bergelut dengan guncangan selama 2,5 jam, tiba lah aku di Bandara Soekarno Hatta. Alhamdulillah Allah masih memberikanku kesempatan untuk hidup dan menikmati keindahan alamnya yang begitu luar  biasa ini…

399769120_IMG_4671

 

Seperti itulah pengalaman pertamaku naik pesawat ya kawan-kawan, kelen cemana pengalamannya ?? boleh lah agak sharing-sharing dulu kita di kolom komentar, aku tunggu ya… Hhhehe


30 respons untuk ‘Pengalaman Pertamaku Naik Pesawat

  1. Cakep bang. Gajauh beda la ama aku ya pas naik pesawat utk pertama kalinya hehehe. Cerita behel, aku pake behel sih. Tp untung gak disuruh lepas😂😂😂.
    Klo aku pribadi bg, stiap mau boarding gak pernah mau pke belt atau jam tngan (yg berbau logam). Ribet buka pasangnya. Nnti aja pas di tmpat tjuan baru aku pake. Hehehe.

    Oiya, boleh dong bang mampir ke blog aku😁. Ditunggu komentar dan sarannya hehehe.

    Fani (member grup travelingyuk.com)

    Suka

  2. Pengalaman perdana naik pesawat siy waktu aku masih kecil, belum sekolah. Sekitar akhir tahun 70an kalau kata Mamaku dulu. Waktu itu ya namanya anak-anak pasti seneng aja diajak naik pesawat. Sampai sekarang so far aman-aman aja setiap kali aku terbang, naik maskapai apapun. Yang kuingat pernah pas liburan dari Jakarta ke Bali naik Garuda trus pesawat kami crash landing dan roda belakang pesawat nyentuh lampu di ujung landasan. Ngeri-ngeri sedap karena bandaranya kan tepi laut. Untung ngga masuk dalam air hahahaha.

    Suka

  3. Untung ya kakak pengalaman pertama kagak muntah muntah. teman aku ada, pertama naik pesawat muntha muntah terus bahkan sampai darat pun muntah. seharian tepar di kamar dan masih pingin muntah.

    But first time always special one. Alhamdulilah, semoga nest bisa sering sering naik pesawat dan travelling.

    Suka

  4. Hahaha … seru juga baca sharingnya. Sebagai org yg jrang naik pesawat, tp pernah bbrp kali aku sngat paham perasaan yg dialami Bang Harlen, hehe … krn saat pertama kli pun aku pun mengalami pnglman yg hampir sama. Hnya sja aku blm pernah naik pesawat sendirian, sllu berteman. Jadi bisa dibayangkan kan gmn kesannya saat sendiri dan berteman, hehe…

    Tiketnya 750rb? Sama kyak aku wktu dulu pertama naik psawat, juga tiket nya seharga itu.

    Suka

  5. sama kayak pengalamanku naik lion air pertama kali pasrah ajalah mana gak ada lagi penerbangan setelah itu dari Semarang ke Bengkulu hiks hiks. rekomen yang lain naik citilink tapi gak ada jadwal lagi yaudah daripada gak balik lebih baik naik lion air ajalah.

    Suka

  6. Wah serunya yah,bang.
    Dulu pertama kali naik pesawat juga mikir kalo berpergian dengan pesawat hanya untuk kalangan atas. Ternyata yang biasa saja seperti saya ini juga bisa.
    Menikmati liburan ke Jogja tentu menjadi kebahagiaan berlipat yah,bang.
    Next,pengen juga ya kolaborasi jalan-jalan naik pesawat bersama para blogger di Medan yg hobi jalan-jalan juga.

    Suka

  7. Pertama kali naik pesawat itu mah gak berani lihat ke jendela stlh take off, masih terlalu kecil, hehe
    Skrng malah jd sdkt takut kl nempuh long haul flight.
    Next bakal ngetrip terbang kemana lg bang?

    Suka

      1. Nice idea bang! Bagus2 viewnya disana. Blm kesampaian saja nih, hehe
        I am new here, thanks sdh reply comment saya juga bang

        Suka

  8. itu serius ambil pesawat jam tengah 7 bg? terus berangkat dari Medan jam tengah 5… whaat…… mepet beutt waktunya lah. tapi untung aja delay kalau ga bisa hangus. Sebaiknya tiba dibandara sejam sebelum deh, dari pada tiket melayang gitu aja kans

    Suka

  9. salam kenal bang, blogwalking membawaku kesini 🙂 aku dulu pertama naik pesawat waktu kuliah semester akhir, dan gak bisa ngelepas seat belt haha jadi tanya sama orang sebelah 😀
    semoga abis gini bisa sering2 pelesir naik pesawat ya bang 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.