Menelusuri Candi Arjuna Dieng, Candi Hindu Tertua di Indonesia

Pagi di Dieng sungguh menakjubkan, aroma embunnya begitu terasa, sesekali terdengar kicauan berkicau seolah mengajakku untuk segera beranjak dari tempat tidur. Cuacanya sangat dingin dengan suhunya menyentuh angka 12°C, membuatku enggan keluar dari balik selimutku. Sebenarnya waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, namun sepertinya mentari sudah tak sabar lagi dan perlahan mulai menampakkan diri dari sela-sela perbukitan yang mengelilingi Dataran Tinggi Dieng.

IMG_5522

Hari itu adalah pertama kalinya aku menyambangi Dieng, sebuah Desa di Jawa Tengah yang diapit oleh dua kabupaten sekaligus, yakni Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Agenda pagi itu adalah berkunjung ke Candi Arjuna, sebuah situs bersejarah yang juga merupakan Candi Hindu tertua di Indonesia. Selain itu candi yang dibangun sekitar abad 8 Masehi tersebut juga digunakan sebagai lokasi event tahunan Dieng Culture Festival. Meski bukan seorang sejarawan, tapi aku selalu memberikan perhatian lebih kepada objek-objek wisata yang memiliki perjalanan histori yang panjang, salah satu contohnya adalah Candi Arjuna ini.

Tanpa mandi dan  Cuma cuci muka sedikit saja aku pun beranjak menuju Candi Arjuno ditemani oleh Jokowi, bukan Pak Jokowi Presiden Republik Indonesia ya, Jokowi ini adalah salah satu tim dari Jelajah Dieng yang sudah bersedia menampung aku selama berada di Dieng. Hal ini menjadi salah satu hal yang patut aku syukuri, pasalnya aku tidak perlu lagi mengeluarkan budget akomodasi penginapan disana, sekedar info tarif menginap di kawasan Dieng berada di kisaran Rp 250.000 – Rp. 500.000 / malam. Disana juga tidak ada hotel bintang lima karena masyarakat tidak menginginkan pembangunan hotel mewah  di salah satu daerah penghasil kentang terbaik di Indonesia tersebut, karena akan berimbas pada defisitnya pendapatan homestay-homestay kecil disana.

IMG_5635

Ditengah cuaca pagi yang  yang masih menusuk, Aku dan Jokowi dengan menaiki sepeda motor diantara jalanan Dieng yang masih sepi, sesekali terlihat beberapa orang yang hendak pergi bekerja atau pun pergi ke ladang. Jarak dari basecamp Jelajah Dieng ke Kompleks Candi Arjuno cukup dekat, cukup 5 menit saja dengan menggunakan sepeda motor. Tak berapa lama sampailah kami di depan sebuah Gapura besar berwarna hitam bertuliskan “Kawasan Wisata Candi Arjuna Kabupaten Banjarnegara. “

IMG_5862

Ternyata di dalam kompleks Candi Arjuna ini juga terdapat sebuah bangunan bersejarah bernama Pendopo Soeharto Whitlam, Pendopo ini  pada tahun 1974 digunakan oleh Soeharto dan Perdana Menteri Australia Mr. Gough Whitlam untuk menyatakan dukungan atas kemungkinan integrasi Timor-Timor ke Wilayah Indonesia.

IMG_5367

Sebelum masuk ke kawasan Candi seharusnya sih aku membayar tiket dulu, tapi akhirnya aku ga perlu bayar tiket masuk lagi, sudah di back up sama Jokowi, katanya karena cuma bawa satu orang jadi ga usah bayar tiket lagi. Alhamdulillah rezeki anak sholeh. Hhhehe

Seandainya pun bayar harga tiketnya juga cuma Rp 15.000 / paket. Paket disini maksudnya adalah dengan tiket itu pengunjung sudah bisa memasuki kawasan Candi Arjuna dan Kawah Sikidang. Jadi satu tiket untuk dua destinasi wisata, yaitu Candi Arjuna dan Kawah Sikidang.

IMG_5364

Sebelum memasuki komplek candi pengunjung pun diharuskan memakai semacam kain bercorak hitam dan putih, beberapa ada yang memakainya di pinggang, ada yang melingkarkannya dileher, bahkan ada yang menjadikannya sebagai sorban. Sukak-sukak orang itu ajalah kutengok.. Hhhaha

Pertama kali melangkahkan kaki ke kawasan candi, hal pertama yang membuat aku takjub adalah kebersihan objek wisata ini yang sangat terjaga. Tidak ada plastik makanan, botol minuman, atau bahkan puntung rokok yang bertebaran di sekeliling area candi yang pertama kali ditemukan tahun 1814 oleh tentara Belanda bernama Theodore Van Elf  yang tidak sengaja melihat bagian atas candi yang terbenam dalam kubangan air. Hingga pada tahun 1864 dilakukan upaya penyelamatan oleh H.C. Cornelius yang kemudian dilanjutkan oleh tentara Belanda bernama Van Kinsbergen pada masa kolonial Hindia Belanda.

IMG_5363

IMG_5314

Dari dulu sampai sekarang justru orang-orang luar negeri lah yang lebih peduli terhadap kelestarian situs bersejarah yang ada di Indonesia. Kemana kita dan apa yang sudah kita lakukan sebagai generasi penerus bangsa yang terlahir dari tetes darah dan keringat para pahlawan ini diperjuangkan oleh para pahlawan ini ?

Suasana di komplek candi hari itu tidak begitu ramai, karena kebetulan waktunya tidak sedang akhir pekan ataupun hari libur, hanya ada beberapa orang yang datang berkunjung dengan ditemani oleh tour guide nya masing-masing. Kalau sedang akhir pekan atau hari libur objek wisata ini selalu ramai, bahkan jika sedang Hari Raya Galungan, Candi Arjuna ini selalu dipadati oleh umat Hindu yang ada di seluruh Indonesia untuk sembahyang.

IMG_5274

IMG_5268

IMG_5384

Komplek Candi Arjuna sendiri memili luas sekitar 1 Ha yang dikelilingi oleh pohon-pohon cemara, bunga dandelion, dan memiliki hamparan rerumputan  hijau yang ditata dengan sangat rapi dan bersih. Di dalam komplek candi juga terdapat sisa-sisa reruntuhan peninggalan zaman kerajaan mataram kuno, selain itu juga terdapat dua buah sumur suci yang bernama Sendang Sedayu dan Sendang Sekoco yang digunakan sebagai tempat tempat ritual pemandian anak rambut gimbal yang dilaksanakan tiap tahun tepatnya pada perayaan Dieng Culture Festival.

IMG_5263

IMG_5253

IMG_5258

Di dalam kompleks Candi Arjuna sendiri terdapat 5 buah candi. Yaitu Candi Arjuna, Candi Semas, Candi Puntadewa, Candi Subadra, dan Candi Srikandi. Kelima candi  di kompleks ini memiliki detail dan ornamen yang hampir sama. Di setiap candi, dapat ditemukan penil (ornamen pada bagian tangga, seperti pegangan), kala (wajah raksasa tanpa rahang bawah yang terdapat di bagian atas pintu), makara (diletakkan di sisi-sisi pintu dan dipercaya mampu mengusir kejahatan), jalatmara (saluran air untuk mengalirkan air dari bagian dalam candi ke salah satu sisi), istadewata (terdapat pada bagian atas candi dan dipercaya sebagai tempat masuknya pada dewa), serta antefik (ornamen yang terdapat di bagian ujung tiap sisi). Selain itu, di setiap candi, dapat ditemukan diksa (jalur bagi umat untuk mengelilingi candi sebelum masuk ke area candi utamanya yaitu Candi Arjuna.

IMG_5333

Saat berkunjung Kompleks Candi Arjuna, kalian  tidak akan menemukan arca yang biasanya menghiasi di setiap candi. Kalian hanya akan melihat ruang-ruang kosong yang biasanya dijadikan tempat meletakkan arca. Sebagian besar arca yang berasal dari kompleks candi ini disimpan di Museum Kailasa, yang letaknya tidak jauh dari kompleks candi. Sementara sebagian yang lain sudah hilang.

IMG_5324

IMG_5292

Setelah berkeliling di seputaran komplek Candi Arjuna, aku pun diajak oleh Jokowi ke sebuah Danau yang letaknya tidak jauh dari area Candi, cukup berjalan kaki saja sejauh 100 meter. Awalnya spot wisata yang satu ini memang tidak masuk ke dalam destination list yang akan aku sambangi di Dieng, namanya juga traveling ya kan, pasti akan selalu ada hal-hal yang tidak terduga sebelumnya. 😀

Objek wisata ini bernama Danau Balai Kambang, Balai artinya tempat tidur dan kambang berarti mengambang. Luasnya tidak sampai satu hektar, tapi menurut penuturan Jokowi kedalamannya belum dapat diukur sampai sekarang. Mitos setempat mengatakan, danau ini dijaga oleh dua ekor naga, dan barangsiapa yang mampu melihat Balai Kambang ( Tempat Tidur yang mengambang ) diatas danau maka seluruh keinginannya akan terkabul. Dan aku sama sekali ga melihat hal tersebut diatas danau, kalau nampak kan lumayan juga keinginanku untuk makan banyak tanpa takut gemuk bisa terkabul. 😀

IMG_5349

Tekstur rumput di Balai Kambang ini cukup empuk, membuat aku seolah berjalan diatas Springbed, sebab di bawah rumputnya terdapat air yang langsung terhubung ke danau. Jokowi juga menuturkan bahwa dulu pernah ada tragedi mengerikan disini, pernah ada dua orang yang sedang asyik memancing di pinggir danau, singkat cerita salah satu dari mereka terpleset dan jatuh ke dalam danau dan sampai sekarang belum ditemukan. Pernah dilakukan pencarian tapi hasilnya nihil, mereka pun berkesimpulan bahwa mayat yang terjatuh itu pasti berada tepat dibawah rumput yang mengambang diatas danau, tapi berhubung arus dibawahnya sangat deras, maka tidak ada satu orang pun yang berani masuk ke dalamnya. Ngeri juga ya…

Selama aku berkeliling di seputaran Candi Arjuna ada satu hal yang cukup menggelitikku. Jokowi sangat heran melihat aku yang begitu antusias mendengarkan segala celotehnya mengenai sejarah dan budaya di daerah yang dikenal sebagai salah satu penghasil kentang terbaik di Indonesia tersebut. Biasanya saat dia mengajak tamu untuk berkeliling Dieng jarang ada yang mau mendengarkan ceritanya, mereka lebih sibuk berswafoto kesana kemari.

Setiap orang tentu memiliki tujuan tersendiri saat traveling, mungkin sebagian besar kita hanya mengejar foto saja. Tapi bagiku traveling itu memiliki esensi yang jauh lebih luas, dengan mengunjungi suatu tempat aku bisa mengenal lebih dekat budaya di daerah tersebut, aku bisa mengenal kearifan lokal yang melekat disana, dan tentu saja bisa bertemu dan menjalin silaturahim dengan orang-orang baru dengan latar belakang yang berbeda satu sama lainnya. Syukur – syukur bisa ketemu jodoh juga ya kan… Hhhahahahaha

Sekian dulu ceritaku mengenai Candi Arjuna ya kawan-kawan, aku tunggu komentarnya.

Salam Petualang…

Sampai Jumpa di perjalanan… J

 


27 respons untuk ‘Menelusuri Candi Arjuna Dieng, Candi Hindu Tertua di Indonesia

  1. Cuaca di sana adem banget ya mas kayaknya, jadi pingin jg ke sana. Btw serem banget cerita pemancing yang tenggelam itu, kebetulan baru tau ada kejadian begitu

    Suka

  2. Kalau ke sana pas Dieng Culture Festival kayaknya seru juga, ya. Pasti banyak atraksi keren yang mereka sajikan. Btw itu rumput udah kayak gelombang aja, goyang-goyang kalau diinjak😀.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Bang bang, ini artikelnya bisa kamu bikin clickbait lho dengan judul: “Serunya Menjelajah Candi Arjuna Dieng bersama Jokowi.”
    Wihhh, pasti langsung pada kepo baca! wakaka.

    Kalau menurutku pembangunan hotel bintang 5 itu tidak akan “mencuri” pasar, namun malah akan mengembangkan pasar. Hotel bintang 5 dan homestay itu punya pasar yang berbeda. Kehadiran hotel bintang 5 bisa membuat orang-orang yang tadinya nggak tertarik ke Dieng jadi tertarik lho.

    Suka

  4. Yeay… Akhirnya sampai Dieng juga, mas 😀

    Mengutip… “Sebelum memasuki komplek candi pengunjung pun diharuskan memakai semacam kain bercorak hitam dan putih, beberapa ada yang memakainya di pinggang, ada yang melingkarkannya dileher, bahkan ada yang menjadikannya sebagai sorban. Sukak-sukak orang itu ajalah kutengok.. Hhhaha”

    Ini aturan baru ya, mas? Setahun lalu ke kompleks candi Arjuna belum ada keharusan memakai kain ini lho

    Suka

  5. aku belum pernah ke Dieng, jadi pengen.

    Bang kenapa aku ngeri sama rumput di danau Balai kambang ya,.. ngeri kalau rumputnya ambles ke bawah. semoga tidak 😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.