Menjemput Mentari ke Puncak Sikunir Dieng

Hawa dingin terus menggerayangiku seolah ingin mengusir suhu panas tubuhku, aroma embun itu kian menguat. Pelan-pelan kuarahkan pandanganku yang masih dilanda kantuk itu ke layar handphone, ternyata sudah pukul setengah lima pagi. Aku pun harus menerima kenyataan yang kurang mengenakkan, bahwa pagi itu adalah hari terakhirku di Dieng setelah 3 hari sebelumnya menjelajah negeri diatas awan tersebut.

Aku buka jendela kamar, dari kejauhan aku melihat sang fajar mulai mengintip dari sela-sela perbukitan. Aku harus segera bergegas, pasalnya destinasi terakhir yang akan aku kunjungi adalah menyaksikan fenomena sunrise di Puncak Sikunir Dieng. Awalnya sebenarnya aku ingin menikmati momen matahari terbit itu di Puncak Gunung Prau, namun ternyata kawan-kawan dari Jelajah Dieng yang sudah bersedia menampungku di Dieng tidak bisa menemaniku mendaki gunung dengan ketinggian 2590 mdpl itu karena sudah ada janji untuk memandu peserta trip dari luar kota.

Sebenarnya bisa saja sih aku pergi sendirian, masalahnya aku tidak membawa tenda sama sekali, tadinya ingin meminjam tenda punya jelajah dieng, eh ternyata rusak. Mau menyewa di rental perlengkapan outdoor bakalan menguras kantong lagi. Kalau aku harus ikut dengan modal badan saja bersama dengan rombongan yang berisi orang-orang yang belum aku kenal sebelumnya, aku merasa segan. Lagipula aku tipikal yang kurang nyaman jika melakukan pendakian dengan orang yang belum kukenal sebelumnya, sejujurnya kawan-kawan dari jelajah dieng juga baru 3 hari aku kenal, tapi sedikit banyaknya aku sudah mulai bisa beradaptasi dengan mereka setelah  interaksi kami beberapa hari sebelumnya.

Akhirnya sebagai pengobat rindu akan momen lahirnya sang surya ke dunia tersebut, pilihanku pun bergeser ke Puncak Sikunir Dieng yang jarak tempuhnya tidak begitu jauh, sehingga tidak perlu menginap dan membawa tenda lagi.

Selepas mengenakan jaket dan memasukkan kamera ke dalam tas selempang aku pun beranjak ke Puncak Sikunir dengan mengendarai sepeda motor milik Mas Amiem, salah seorang dari tim Jelajah Dieng, motor ini memang sudah direlakan untuk aku pakai selama berada di Dieng. Entah sudah berapa banyak kebaikan yang diberikan oleh Mas Amiem dan kawan-kawan padaku, mulai dari menginap gratis, dipinjami motor, bahkan sampai dikasih makan. Hanya jodoh saja yang tidak mereka serahkan padaku, mereka berdalih kalau cewek-cewek di Dieng tidak ada yang menarik, ah tapi bagiku itu tampak hanya  alasan mereka saja… Hhahaha

img_5886

Jalanan Dieng masih sepi kala itu, ya iyalah siapa juga yang mau berkeliaran subuh-subuh gini, udahlah cuaca dingin, sepi, yang ada cuma suara jangkrik, atau mungkin juga ada suara mami kunti yang tertawa cekikikan melihat seorang pria lajang yang rela melawan hawa dingin Dieng yang mencapai 12°C tersebut. Aku tidak peduli, yang ada di benakku sekarang adalah aku harus memacu motor lebih cepat lagi supaya aku tidak ketinggalan menyaksikan wujud matahari terbit di Puncak Sikunir yang sering disebut sebagai salah satu Golden Sunrise yang ada di Indonesia.

Berbekal Google Map aku pun melintasi pagi yang masih gelap gulita, lampu jalan dan cahaya rumah warga terus mengiringiku hingga perlahan mereka pun menjauh dan menghilang, yang tersisa hanya cahaya dari sepeda motor yang aku naiki.

Setelah hampir setengah kilometer meninggalkan perkampungan penduduk, tibalah aku di sebuah simpang tiga, dan langsung berbelok ke kiri mengikuti arahan dari tante google. Jalanan datar dan beraspal mulus kini mulai menjelma menjadi tanjakan dan penuh bebatuan, dari sini kejanggalan itu pun mulai aku rasakan. Apa iya objek wisata Puncak Sikunir yang terkenal itu memiliki akses jalan seburuk ini ? tanyaku membatin. Tapi aku mencoba berpikir positif dan terus menarik gas sepeda motor. Suasana hening semakin menjadi-jadi, kini yang terdengar hanya suara motor dan suara hatiku yang kian banyak melontarkan pertanyaan. Tak berapa lama aku pun berhenti di sebuah lapangan yang dikelilingi oleh semak-semak, kemudian dari kejauhan mataku samar-samar menangkap sebuah benda berbentuk kotak panjang berwarna putih dengan tonggak yang menancap di salah satu sisinya.

“Kuburannn !!! wah udah ga beres ini, “ umpatku dalam hati. Tanpa pikir panjang aku segera memutar arah kemudi sepeda motor dan langsung tancap gas. Beberapa menit kemudian sampailah aku di persimpangan tadi. Aku kembali memeriksa google map di layar HP, dan ternyata aku sudah telah salah arah, persimpangannya ternyata masih jauh. Sepeda motor pun kembali melaju, di tengah perjalanan batinku bertanya, “ Sebenarnya tadi aku yang udah salah lihat  atau barusan memang aku telah “dikerjain” oleh makhluk-makhluk itu ? “ Ah sudahlah, kubuang saja pikiran aneh itu jauh-jauh.

Setengah jam pun berlalu dari kejadian membingungkan tadi. Roda motor terus berputar hingga di tengah perjalanan aku dicegat oleh dua orang berbadan besar dan tegap, tadinya au berpikir aku akan dipalak, sepertinya mereka hanya ingin memberikanku tiket masuk seharga Rp.10.000. Setelah membayar uang retribusi aku kembali memacu sepeda motor dan gumpalan kabut pun menuntunku menuju lokasi parkir. Aku merasa seperti berada di desa kabut layaknya cerita Naruto, desa berkabut ini bernama Desa Sembungan, sebagai info tambahan desa ini juga menyandang predikat sebagai Desa Tertinggi di Pulau Jawa lho. Wah tak kusangka ternyata kakiku ini sudah berhasil menginjak Desa Tertinggi di Pulau Jawa, tak sia-sia juga aku jauh-jauh nekat menjadi Solo Backpacker dari kota Medan, ga  percuma juga aku memberanikan diri waktu itu menaiki pesawat seorang diri untuk pertama kalinya. Hhhehe

img_6183
Desa Sembungan, Desa tertinggi di Pulau Jawa

Selepas memarkir sepeda motor, aku pun melangkah menuju Puncak Sikunir. Langit Dieng yang gelap perlahan memudar oleh fajar yang mulai menyingsing, mungkin karena  berada di pegunungan sehingga cahaya matahari lebih dulu menyapa desa ini, padahal waktu masih menunjukkan jam 5 pagi. Aku pun  semakin mempercepat langkahku agar tidak kehilangan kesempatan untuk memotret panorama golden sunrise.

Deretan toko-toko yang masih tutup seakan menyambut kedatanganku, jalan yang menanjak seolah menantangku untuk segera bertarung. Tak lama berselang akses jalan semakin tak bersahabat, tanjakannya kian curam, aku  mulai menaiki anak demi anak tangga yang tersusun dari bebatuan. Bermodalkan senter HP, aku pun terus mendaki di tengah suasana yang masih lumayan gelap karena sinar mentari belum mampu menembus rimbunnya pepohonan disini. Keringat bercucuran, nafas terengah-engah, dan lutut mulai berontak. Sialnya di tengah rasa lelah yang melanda aku ternyata lupa membawa air minum, inilah akibat dari terlalu terburu-buru. Alhasil dengan nafas yang tersisa aku pun terpaksa melanjutkan perjalananku seraya memasrahkan kelangsungan hidupku kepada Tuhan.

Setengah jam berlalu, ternyata Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk hidup, akhirnya kini aku berada di Puncak Sikunir Dieng. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang warga saat aku bertanya di parkiran tadi,  disini sudah ramai oleh para wisatawan. Mulai dari yang datang bersama teman-temannya, bersama sanak saudaranya, bahkan dengan pacarnya. Setelah aku perhatikan sekeliling, mungkin hanya aku yang terdampar seorang diri diatas ketinggian 2.300 mdpl ini. Angin pun berdesir dengan kencangnya seakan mengejek dan menertawakanku…Wooii Jomblooo !!!! Hhhahaha

img_5929

 

img_5905

Aku pun mengeluarkan kamera dari dalam tas selempangku dan mulai mengabadikan panorama mentari pagi yang begitu indah terpampang dihadapanku dan juga berburu beberapa lanskap menarik yang seolah bergaya meminta untuk segera difoto, dan spot yang paling membuatku terpukau adalah barisan terasering yang berjejer rapi di kaki langit biru. Lukisan Sang Pencipta  yang ada di Puncak Sikunir ini sepertinya mampu menyihir pikiranku, rasa lelah dan haus yang sedari tadi terus menguasai diri mendadak sirna begitu saja. Alhamdulillah ya Allah untuk kesempatan yang sangat luar biasa ini.

401074720_img_5982

400651984_img_4666

img_5997

Awan lembut  melintasi cakrawala yang semakin terik, desir angin terus membelai manja wajahku yang kian menghitam karena beberapa hari ini diterpa panas matahari. Setelah puas memotret, aku berkeliling di sekitar Puncak Sikunir ini dan mulai berinteraksi dengan beberapa pengunjung. Salah satu yang aku temui dua orang pemuda yang sedang duduk di atas bebatuan sambi asyik memainkan drone nya, aku pun memberanikan diri untuk mengawali komunikasi, ternyata mereka berdua adalah warga lokal yang sedang mengerjakan sebuah proyek video dokumentasi. Pria tinggi kurus dengan rambut gondrongnya bernama Very, sementara satunya lagi berbadan sedikit tambun yang aku lupa namanya siapa. Mereka berdua pun menawarkanku secangkir kopi, dengan senang hati aku pun menerima tawaran tersebut. Kebetulan dari tadi aku belum ada meneguk air sama sekali, mulut juga sudah mulai asam karena belum ngopi, mungkin karena aku belum gosok gigi juga kali ya.. Hhhehe

img_5963

Obrolan kami semakin cair hingga tak terasa hari semakin siang. Kami bertiga pun mulai beranjak menuruni Puncak Sikunir. Ditengah paparan mentari yang semakin terang, akses jalan yang aku lalui jadi terlihat jelas. Satu hal yang membuatku terkesan dengan objek wisata di Dieng ini, yaitu sisi keamanan dan kebersihan yang tampak sangat dijaga oleh pemerintah setempat. Selain jalur pendakian yang dipasangi pagar pembatas, tali pegangan juga tidak lupa disematkan sebagai antisipasi saat jalanan licin karena hujan yang turun. Dan yang membuatku semakin takjub adalah tidak ada satu pun sampah yang berserakan selama aku berada disini, bagiku ini bukan hanya bentuk tanggung jawab dari pemerintah setempat, tapi juga buah kesadaran diri dari para wisatawan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Buat kawan-kawan yang beragama muslim juga tidak perlu takut, disini juga sudah disediakan mushola bagi yang ingin menunaikan kewajiban shalat.

img_6005

img_6012
Mushola

Disela jalan turun, aku juga melihat seorang pria paruh baya yang tengah asyik memecah batu – batu besar untuk memperbaiki kembali akses jalan yang sedikit rusak. Penampilannya kumuh, rambutnya berantakan, sekilas terlihat seperti gelandangan. Karena penasaran aku pun mendatanginya. Awalnya aku berpikir mungkin bapak ini disuruh oleh pihak pengelola dengan imbalan materi tentunya. Tapi ternyata ia melakukan ini dengan sukarela tanpa dibayar sama sekali. Sontak aku sedikit kaget mendengarnya, bapak yang tak sempat aku tanya namanya itu beralasan kalau ia tidak ingin para wisatawan kecewa dengan infrastruktur objek wisata kebanggaan warga Dieng ini berantakan, apalagi sampai bisa membahayakan keselamatan mereka.

img_6045
Seorang bapak yang ikhlas memperbaiki jalan yang rusak

Aku pun terharu dan salut melihat dedikasi bapak tersebut. Di saat dunia ini semakin dipenuhi oleh orang-orang egois yang hanya mementingkan perut sendiri, ternya Tuhan masih menyisakan segelintir orang – orang yang mau memberikan manfaat untuk orang lain.

Karena terlalu asyik bercengkerama dengan bapak pemecah batu, aku pun ditinggal oleh Very dan temannya yang aku lupa namanya tersebut. Mumpung banyak spot-spot bagus, aku kembali mengeluarkan kamera dan mengambil beberapa objek menarik diantara pepohonan yang rindang dan berdiri kokoh mengelililingi tiap sisi jalan. Setelah puas menambah koleksi foto kembali bergegas turun karena sepertinya perutku sudah berontak menuntut haknya.

img_6053

img_5915

Sesampainya di bawah, toko-toko yang tadi tutup sudah siap menjajakan masing-masing dagangannya. Deretan warung makan hingga penjual oleh-oleh saling berebut pelanggan yang lalu lalang. Aku pun berhenti di salah satu warung makan untuk sarapan, aku memesan sepiring nasi goreng, satu mangkok semur kentang, beberapa potong tempe mendolo, dan segelas teh manis hangat. Aku pun makan dengan sangat lahap layaknya orang yang sudah beberapa hari tidak makan, udara khas pegunungan yang segar semakin menambah nafsu makanku sampai seluruh hidangan di hadapanku telah habis tak bersisa. Saat melakukan pembayaran aku terkejut ternyata totalnya semua cuma Rp.20.000 saja. Ini adalah anugrah terindah bagi anak kos sepertiku. Hhehehe

img_6080

img_6121
Semuanya cuma Rp. 20.000 saja 😀

Penjelajahanku di Puncak Sikunir itu pun ditutup dengan membeli beberapa kotak buah carica sebagai buah khas Dieng yang akan aku bawa sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah nanti. Harganya juga bervariasi dari Rp.25.000 – Rp. 50.000 sesuai dengan ukuran.

img_6134
Membeli oleh oleh

img_6107

Ada beberapa pelajaran yang bisa aku petik selama petualanganku kali ini. Meski awalnya ada rasa takut yang menyelimutiku saat memutuskan untuk bepergian seorang diri ke Dieng. Meski sebelumnya ada perasaan was-was karena tidak ada satu pun orang yang aku kenal disini. Aku sebenarnya tidak seorang diri, ada orang-orang baru yang siap untuk aku jadikan kawan. Meski dunia banyak diisi oleh orang-orang jahat, ternyata Tuhan masih menyisakan orang-orang baik yang siap menolong dengan ikhlas. Innallaha Ma’ana ( Sesungguhnya Allah bersamaku )

Sejak petualanganku mengunjungi beberapa daerah di Pulau Jawa seperti Yogyakarta dan Dieng, hasratku untuk terus menjelajahi Indonesia semakin bergejolak, panggilan jiwa itu pun  kian berontak. Aku tak sabar untuk menunggu kesempatan itu datang lagi, karena bagiku menjelajahi seluruh pelosok negeri adalah wujud rasa cintaku kepada keindahan Ibu Pertiwi.

img_5987

Salam Petualang

Sampai Jumpa di perjalanan… 🙂


14 respons untuk ‘Menjemput Mentari ke Puncak Sikunir Dieng

  1. Foto-fotonya kece-kece lho, bang. Nggak salah kok milih Sikunir. Aku malah belum pernah ke Sikunir. Kalau penasaran gimana pemandangan da;ri Prau, bisa cek di blog-ku hehe.

    Bang Harlen ini superstitious juga ya hahaha. Aku bukan nggak percaya sama hantu sih, tapi aku biasanya tetap mencari penjelasan logis dulu.

    Suka

    1. Wahh terbalik berarti kita mas.. malah aku pengennya ke prau.. oke mas segera bertandang ke blognya.. 😁

      Iya makanya mungkin aku saja yang kurang fokus mas.. makanya sampe tersesat gitu.. 😂

      Makasih udah berkunjung balik ke blog aku mas.. 😁

      Disukai oleh 1 orang

  2. Pemandangan mahal ini bang. Aku udah lama penasaran sama Dieng, tapi enaknya ke sana ramean sama temen kayaknya ya hahaha. Aku suka banget foto sawah berundak itu. Aaakkk

    Suka

    1. Wahhh cemana sihh om.. eropa udah dikelilingi tapi dieng aja belum… 😁

      Cuss cari tanggal biar di digaskan terusss.. 😂

      Sama om.. pemandangan sawahnya itu memang juara.. lain kali kalo kesini bawak tendalah aku biar lebih puas.. 😂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.