Jakarta, Monas, dan Teman yang Galau

 Langit Jakarta telah gelap saat aku tiba, suasana Bandara pun disesaki oleh orang-orang yang berlalu lalang, mulai dari yang menawarkan taksi, sampai yang datang menjemput rekan maupun sanak saudaranya. Jarum jam sudah berada di angka 11 dan aku pun segera beranjak dari Bandara Soekarno Hatta dan meninggalkan segala keriuhan masih terus terjadi disana.

Untuk pertama kalinya akhirnya aku menghirup udara Ibukota. Seperti yang dikatakan orang-orang, Kota Jakarta itu sangat gemerlap, gedung-gedung pencakar langit berdiri kokoh dan berjejer di setiap sudutnya, kelap-kelip lampu yang bergantungan menjadikan malam semakin semarak, lalu lintas pun masih dipadati hiruk-pikuk kendaraan yang seolah diburu oleh waktu. Aku berada di dalam Bus Damri dan akan turun di Bundaran Slipi sesuai dengan arahan seorang teman, aku pun mengikuti arahannya meskipun bingung karena tidak tahu Bundaran Slipi itu seperti apa bentuknya. Akhirnya aku berpesan kepada kernetnya agar menurunkan aku di Slipi, mau aku tersesat atau diculik sekalipun nanti aja dipikirkan. Hhhehe

Tiga puluh menit berlalu, aku pun turun di Slipi dan segera menghubungi temanku tersebut untuk menjemputku sesuai dengan perjanjian kami di awal. Dan ternyata aku salah lokasi, harusnya aku itu turun di Bundaran Slipi, bukan di Slipi Kemanggisan. Setelah mendengarkan penjelasannya aku akhirnya tahu kalau ternyata Slipi ini punya varian rasa yang berbeda juga. Hheheh

IMG_4698

Jalanan mulai sepi, hanya sesekali terlihat kendaaraan yang lewat silih berganti. Aplikasi Ojek Online sepertinya menjadi jawabanku yang salah jalan malam itu. Sembari menunggu Abang Ojek datang, aku melihat gerak-gerik mencurigakan dari sebuah persimpangan, aku sepertinya diperhatikan oleh beberapa orang yang duduk disana. Sejurus kemudian mereka mulai berjalan mendekatiku, perasaanku semakin tidak enak. Insting bertahan hidup ku akhirnya bekerja, aku mengeluarkan kamera dari dalam tas dan mulai mengarahkannya membidik objek-objek sekitar. Ajaib, orang-orang mencurigakan yang tadinya ingin mendekatiku mendadak putar arah dan mulai menjauh. Sepertinya mereka mengurungkan niatnya karena melihat penampilanku yang seperti wartawan. Dibalik kemegahannya, Jakarta juga memiliki sisi gelap yang tak biasa dianggap sebelah mata.

Baca juga : Pengalaman Pertamaku Naik Pesawat

BERTEMU TEMAN LAMA

Tak lama kemudian Abang Ojek pun muncul di depan mata dan siap mengantarkanku. Tak lama berselang sampailah aku di sebuah gang, disana sudah berdiri sesosok pria yang aku kenal, badannya tegap namun tidak tinggi, kulitnya sedikit hitam, dimatanya bertengger sebuah kacamata, dia pun melempar senyuman khas yang membuatku yakin bahwa pria itu adalah Taufik, teman lamaku saat SMA. Aku pun turun dari atas ojek dan menghampirinya, kami pun bersalaman dan saling berangkulan. Dua buah rindu akhirnya melebur dibawah langit ibukota yang kian gulita tanpa gemintang dan cahaya rembulan malam itu.

Sejenak kemudian, Taufik mengajakku ke kos nya. Setelah berjalan melewati beberapa gang sempit dan deretan rumah yang letaknya saling berhimpitan, langkah kami pun berhenti di depan sebuah kamar. Begitu kamar dibuka, terpampang sebuah ruangan berukuran 2×3 meter yang sedikit berantakan, tapi tetap lebih berantakan kamarku sih. Lampu kamarnya tidak begitu terang dan sedikit temaram sehingga membuat suasana sedikit menegangkan. Fasilitas kamar mandinya berada di luar dan digunakan berjamaah dengan penghuni kos lainnya. Untuk keadaan kos yang seperti itu aku cukup terkejut saat mendengar kalau tarifnya sebesar Rp. 650.000/ bulan. Di Medan dengan harga segitu sudah bisa menyewa satu kamar yang lebih luas, nyaman, dengan pastinya kamar mandinya ada di dalam.

Aku dan Taufik pun melewatkan malam itu dengan mengobrol panjang lebar, mulai dari masalah pekerjaan sampai urusan percintaan hingga kami terlelap. Aku pun tertidur pulas disertai rasa syukur karena malam itu tidak perlu merogoh kocek lagi untuk menginap di hotel. Hhehe

 

WISATA KE KOTA TUA

Mentari pagi akhirnya menyapa. Aku sudah mandi, berpakaian, dan siap untuk berkeliling kota Jakarta. Tapi tidak dengan Taufik, temanku tersebut masih  bingung memilih outfit yang akan ia kenakan. Apakah harus menggunakan topi atau tidak, mengenakan celana seperti apa, sampai ia pun gelisah harus memakai sepatu atau sandal. Aku sudah menyarankan agar ia memakai yang menurutnya nyaman saja, namun ia tak bergeming sedikit pun. Pantas saja si kawan ini belum juga menikah, untuk urusan baju saja ia masih galau, apalagi untuk urusan memilih wanita. Karena untuk urusan tampang, Taufik cukup rupawan, bahkan ia termasuk dalam jajaran cowok idaman saat SMA dulu. Sayangnya orangnya sedikit plin-plan sehingga tidak sedikit anak gadis yang dibuat patah hati olehnya. Kacau- kacau…. Hhhaha

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya taufik menjatuhkan pilihan pada kaos raglan yang dipadu padankan dengan celana jeans hitam dan sepasang sepatu kets berwarna merah. Tidak lupa topi berwarna abu-abu bertengger dikepalanya dan sebuah tas selempang menjadi pemanis pemanis penampilannya. Kami pun bergegas menuju Objek Wisata Kota Tua.

Langit cukup cerah hari itu, ternyata udara kota Jakarta tidak sepanas dugaanku, masih beda tipislah dengan hawa di kota Medan, atau jangan-jangan justru Medan lah yang semakin terik, entahlah… Hhehe

Untuk menghemat ongkos, Taufik menyarankan agar kami menggunakan Bus Transjakarta saja. Aku pun menyetujuinya, kebetulan aku juga ingin merasakan sensasi berada di dalam moda transportasi andalan ibukota tersebut. Ternyata sangat menyenangkan, meskipun terkadang harus berdiri dan berhimpitan dengan penumpang lain, Bus ini sangat nyaman, bersih, dan tentunya sudah dipasangi AC juga.  Jadi sudah pasti tidak akan kepanasanlah pokoknya.

IMG_5074

Tarifnya juga cukup murah, cuma membayar Rp.3500 saja. Tapi ya harus memakai e-money karena mereka tidak menerima pembayaran secara tunai. Aku jadi merasa ketagihan menggunakan Bus Transjakarta ini, selain nyaman dan hemat, aku juga tidak perlu capek-capek mengemudikan kendaraan sendiri. Kalau lah mayoritas penduduk Jakarta menyukainya, mungkin masalah ibukota bisa teratasi.

Sehabis berdesakan dan berhimpitan di dalam Bus Transjakarta, sampailah kami di Kota Tua Jakarta. Bangunan-bangunan klasik yang sarat akan sejarah itu pun menyambut kedatangan dua pemuda lajang ini. Aku baru ingat kalau hari itu adalah hari minggu, jadi pastinya salah satu ikon wisata Ibu kota ini akan disesaki oleh orang-orang yang ingin menghabiskan akhir pekannya. Ada yang wisata kuliner, berburu spot foto yang menarik, atau hanya sekedar duduk santai dengan teman, pasangan, dan keluarganya di pelataran Kota Tua. Di tengah keramaian orang-orang, Taufik pun mengungkapkan sebuah fakta yang mencengangkan. Rupanya hari itu adalah pertama kalinya ia mengunjungi kawasan yang juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama tersebut. Aku yang tadinya begitu terpukau memandang arsitektur gedung-gedung disana langsung mengalihkan pandangan  kepadanya dengan tatapan heran dan penuh rasa tidak percaya.

IMG_4818

IMG_5051

“Jadi setahun di Jakarta ku kemana aja?,” tanyaku bernada kesal. Taufik pun beralasan sibuk kerja, tidak ada kawan, dan lain sebagainya. Aku mencoba untuk berpikir positif, mungkin saja kesibukan sebagai seorang arsitek di sebuah perusahaan memang menyita banyak waktunya, ditambah lagi dengan sifatnya yang sedikit introvert, hingga sangat wajar jika  ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kos saja. Rasa kesal yang tadi begitu membuncah mendadak menjelma menjadi rasa prihatin. Hhahaha

IMG_4804
Bersama Taufik

IMG_4999

Ada dua buah museum yang bisa disambangi di Kota Tua Jakarta, yaitu Museum Wayang dan Museum Fatahillah. Aku dan Taufik pun memilih mengunjungi Museum Wayang terlebih dahulu. Ternyata Museum Wayang ini dibangun diatas reruntuhan bekas Gereja Belanda. Meski begitu beberapa bagian gereja masih tampak terlihat di dalam gedung yang dibangun pada 1975 tersebut. Salah satunya adalah makam Jan Pieterszoon Coen, seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

IMG_4966

IMG_4847

 

Museum Wayang juga telah memiliki koleksi sebanyak lebih dari 4000 buah wayang, terdiri dari wayang golek, wayang kulit, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, gamelan, berbagai jenis boneka, bahkan aneka ragam topeng. Uniknya koleksi disini bukan cuma berasal dari Indonesia saja, Museum berlantai dua itu juga menyimpan koleksi boneka-boneka yang berasal dari Eropa dan negara-negara Asia lainnya. Tiket masuknya juga sangat murah cuma Rp. 5000 saja. Dengan harga segitu aku sudah bisa mmpelajari wayang yang merupakan warisan dunia yang patut untuk dilestarikan.

IMG_4850
Makam Jan Pieterszoon Coen

IMG_4910

Hari semakin sore dan sinar matahari mulai memudar. Niat untuk memasuki Museum Fatahillah yang terletak tepat di depan Museum Wayang terpaksa aku urungkan karena sudah tutup, padahal aku masih penasaran dengan museum yang kabarnya menyimpan aura mistis itu. Mungkin di kesempatan berikutnya aku akan mengunjunginya. Kota Tua dengan seribu satu kisahnya.

 

PERTAMA KALI KE MONAS

Azan mahgrib sudah berkumandang, Taufik pun mengajakku agar menunaikan shalat maghrib Masjid Istiqlal, aku pun menurutinya. Persis yang aku lihat di televisi, Istiqlal begitu mewah dan gagah. Hal ini menjadikan rasa banggaku sebagai seorang muslim semakin membuncah, tapi sayang kemegahan mesjid ini berbanding terbalik dengan jumlah jamaah yang hadir. Entahlah mungkin akhir zaman memang sudah dekat dengan kita.

IMG_5102

Langit semakin kelam dan matahari telah kembali di peraduan. Rasanya kurang lengkap jika melancong ke Jakarta tanpa berkunjung ke Monas, kami berdua pun beranjak dari Istiqlal menuju ikon Ibukota tersebut.

Jarak dari Istiqlal ke Monas ternyata sangat dekat, aku dan taufik pun hanya berjalan kaki saja kesana. Sejauh kami melangkah puluhan pedagang kaki lima dan kerak telor mememuhi setiap bahu jalan, dan tentu saja sesekali kami juga menemukan penampakan muda-mudi yang pacaran disana. Seketika aku melihat ke arah Taufik, seandainya yang berdiri di sebelahku ini adalah seorang wanita, pasti perjalanan ini akan terasa lebih indah. Hhhaha

IMG_5141
Salah seorang pedagang kerak telor

Akhirnya aku menginjakkan kaki juga disini. Mungkin bagi sebagian besar orang sudah bosan melihat Monas, tapi bagi pria kampung seperti aku yang lahir di sebuah kota kecil di pinggiran Sumatera Utara, hal ini adalah sebuah pencapaian yang patut aku apresiasi. Aku besar dari keluarga yang sederhana, tiket pesawat bukanlah sesuatu yang bersahabat bagi keluarga kami. Dulu aku sering iri melihat teman-temanku yang memamerkan foto-fotonya di , aku pun bertekad suatu saat akan berada disana. Alhamdulillah impian orang kampung ini terwujud juga, aku bangga bisa kesini dengan uang sendiri dan tidak merepotkan orangtua lagi. Mak anakmu udah sampai Monas… Hhahaha

IMG_5136

Di setiap sudut halaman luar Monas terdapat relief yang menggambarkan sejarah Indonesia sementara di dalam bangunan diisi oleh diorama-diorama yang menampilkan fase-fase sejak zaman pra sejarah hingga pemerintahan Orde Baru Suharto. Tapi ada satu hal yang merusak pandanganku, yakni sebuah diorama yang bingkai kacanya rusak namun hanya diperbaiki dengan menempelkan selotip saja. Jika ada wisatawan asing yang berkunjung, alangkah malunya kita jika hal sepele ini justru dibiarkan, citra Monas sebagai Museum Kemerdekaan akan ternoda.

IMG_5118

IMG_5122
Salah sau diorama di Monas
IMG_5113
Diorama yang rusak

Apakah pihak pengelola tidak punya uang lagi untuk mengganti kaca yang rusak ? Entahlah hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Semoga masalah ini segera dibenahi.

Karena sudah terlalu malam akses menuju puncak monas ditutup, aku dan Taufik  harus puas hanya berkeliling di museum saja. Akhirnya kami pun pulang dengan sedikit rasa kecewa, mungkin lebih tepatnya aku sih yang kecewa, toh Taufik kapan saja bisa datang lagi, sementara besok pagi aku harus melanjutkan petualangan lagi ke Dieng.

Sesampainya di kos, kami rebahkan badan yang kelelahan karena seharian jalan-jalan. Ditengah badan yang masih lengket oleh keringat Taufik pun memulai percapakan. Dia meminta pendapatku mengenai status kami yang masih melajang sementara usia sudah mendekati kepala tiga, selain itu dia juga ternyata galau dengan pekerjaannya sekarang dan sudah jenuh  tinggal di Jakarta dan ingin kembali ke kampung saja.

Aku pun kaget saat dia mengatakan itu, sebab saat SMA dulu Taufik adalah tipikal orang yang cuek dan santai untuk urusan seperti itu, sifatnya tersebut hampir sama denganku. Sampai sekarang aku memang belum ingin menikah, masih ada hal-hal yang ingin aku capai selagi aku muda, salah satunya adalah mengelilingi Indonesia, hal yang akan sangat sulit dilakukan jika aku sudah berstatus seorang suami dan seorang ayah. Sebagai seorang teman, aku pun hanya bisa menyarankannya untuk bersabar karena jodoh sudah diatur oleh Allah, cepat atau lambatnya menikah bukanlah patokan kebahagiaan. Tidak perlu merasa tertekan dengan kawan-kawan seumuran yang sudah naik pelaminan dan bahkan sudah memiliki momongan. Berbaik sangka saja, mungkin Allah sedang menyiapkan yang terbaik untuk kita.

Menjadi Arsitek adalah cita-cita Taufik sejak dulu, tapi bekerja sebagai arsitek di sebuah perusahaan mengharuskannya pergi dari pagi dan pulang hingga malam tiba, hal ini ternyata membuatnya tidak betah tapi sayangnya ia belum berani keluar dari perusahaannya tersebut. Aku pun memberi semangat agar dia percaya dengan kemampuannya dan melawan rasa takut itu, sebab aku yakin semakin besar rasa takut itu, semakin besar pula kesuksesan dibalik itu, high risk high return. Aku juga demikian, suatu saat aku pun akan meninggalkan pekerjaanku sebagai karyawan swasta dan mengikuti passionku menjadi seorang penulis. Aku ingin bebas berkarya dan berpetualang semauku tanpa dibatasi oleh waktu. Aku yakin jika kita mencintai pekerjaan kita, uang pun akan datang dengan sendirinya.

Taufik pun mengangguk. Entah angin apa yang merasukiku sehingga menjadi sok bijak malam itu. Mudah-mudahan aku tidak memberikan ajaran sesat kepada temanku tersebut dan semoga kami berjodoh eh maksudnya menemukan jodohnya masing-masing. Hhhaha

Dibawah langit ibukota, di dalam sebuah kamar dengan cahaya temaramnya. Dua bujangan itu kini telah larut oleh mimpinya sendiri dan bertekad untuk mewujudkannya esok hari.

                                                                  °°

Salam petualang

Sampai jumpa di perjalanan 🙂

 


46 respons untuk ‘Jakarta, Monas, dan Teman yang Galau

  1. cerita yang menarik, aku seperti melihat ftv dengan kalian berdua ada di dalam kotak tv itu bang 🙂 aku kalo didekati preman mungkin bakal lari duluan >.<
    btw, yg abang maksud itu namanya maket, bukan diorama.. hehehe…

    Suka

  2. Taufik itu mirip-mirip aku sih. Aku jarang-jarang tau tempat terkenal di kotaku, dan baru tahu sekitar akhir-akhir ini, saat memasuki umur 20an hadeeeeh. Bedanya aku gak sibuk dan emang gasuka keluar, ehe~

    Suka

  3. cerita dan pengalaman selama di jkt nya menarik, jadi seolah2 aku ikut jalan2 bersama kalian bang hehe… btw suka ke museum yah? jaman sekarang orang takut diviralkan, begitu liat abang bawa kamera mereka langsung mundur

    Disukai oleh 1 orang

  4. aku pernah ke jakarta, 2 kali bahkan. Tapi sayangnya bukan untuk jalan-jalan melainkan untuk lomba nasional dan membawa nama sekolah juga medan.
    yaaahh,, gak sempat jalan-jalan dan kepengen banget…

    semoga aja aku bisa menjelajahi ibukota…
    soalnya makin nambah kepengen gara-gara tulisan abang ini….

    huft,-

    Disukai oleh 1 orang

  5. Oke, aku akan banyak berkomentar nih haha.

    Dua orang itu bisa jadi berniat menanyakan apakah kamu nyasar atau butuh bantuan, bang. Lalu karena melihat kamu foto-foto, mereka berpikir, “Oh, kayaknya bukan orang nyasar.”
    Mungkin ya.
    Harga kost-ku di Bandung juga Rp600.000 tapi udah kamar mandi dalam hehe, luasnya kurang lebih sama kayak kamar Taufik.

    Kalau aku sih, dengan teman atau sendiri, akan tetap meluangkan waktu ke Kota Tua. Mungkin Taufik nggak terlalu suka menjelajah.
    Hahaha, aku juga udah mau kepala 3, jangan-jangan kita seumuran apa malah aku lebih tua dari kamu bang 😀

    Masjid Istiqlal itu ada di tengah kota bang, ada di tengah kawasan bisnis dan pemerintahan, bukan di tengah pemukiman. Jadi masyarakat wajar jika memilih sholat di rumah atau di mushola/masjid terdekat. Jangan buru-buru negative thinking gitu dong 🙂

    Suka

    1. Waduhhh.. panjang komentarnya nih.. 😂😂

      Ya kalo mau bantu kayaknya ga perlu datang beramai2 juga sih mas..
      Mungkin insting melindungi diriku aja yang terlalu tinggi mas.. 😁

      Taufik 650 ribu kamar mandi luar mas.. luar biasa kali memang ibukota ini.. 😂

      Seperti yang aku tulis mas.. taufik memang orangnya introvert.. tapi ga kusangka separah itu sampe ga pernah ke kota tua.. 😁

      Kayaknya mas nya aja deh yang lebih tua.. biar aku aja yang kelihatan lebih muda.. 😂

      Ya semoga saja mereka memang sholat mas.. 😁

      Suka

  6. asik kali aku baca tulisan bang harlen. moga kesampaian niat keliling indonesia ya bang. oh ya, asalku ga pala jauh dr dieng bang. temanggung, barangkali bang harlen sempat lewat setelah dr dieng

    Suka

  7. nasihat-able juga kisah bang harlen kali ini. Jadi teringat waktu kecil karena sering nonton filem Josua oh Josua di tipi, jadi pernah juga bercita-cita: pingin ke jakarta liat monas ;D

    Suka

    1. Nah itu di mas saya juga ga tau.. saya tanya sama yang jaga.. mereka juga ga tau.. kalo google aja nyerah sama siapa lagi kita bertanya..

      Ato nanti aku coba tanya sama van persie mas.. 😂

      Suka

  8. Terakhir pas ke Monas, aku dan adik datang di hari Senin. Ternyata tutup! wakakak, padahal niatnya mau naik ke puncak Monas lagi kayak dulu tahun 2005. Ya nasiplah.

    Next mau main ke sana malam-malam kayak gini. Kayaknya menarik 🙂

    Suka

  9. wah indah juga ya monas kalau malam hari, jadi terasa lebih hidup suasana nya bikin tenang 🙂

    ijin mem-follow blog anda ya, untuk mengetahui kabar artikel di blog anda, semoga berkenan untuk berteman dengan saya, terimakasih

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Ibadah Mimpi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.