Yogyakarta, sebaris rindu untuk kota istimewa

Jogja… Jogja… tetap istimewa… istimewa negerinya… istimewa orangnya…“

Penggalan lagu dari Jogja Hip Hop Foundation yang sempat meroket di tahun 2011 itu terus mengalun merdu di pikiranku sepanjang perjalanan dari Wonosobo menuju Yogyakarta. Aku yakin bukan tanpa alasan Yogyakarta disebut Daerah Istimewa, apalagi saat pertama kali mendengar lagu Jogja Istimewa karya musisi asal kota gudeg tersebut, makin bertambah rasa penasaranku kepada daerah yang saat ini dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono X itu.

Aku menaiki sebuah Mobil Travel berkapasitas 7 penumpang. Bisa dibilang keberangkatanku ke Yogyakarta sedikit nekat, pasalnya selain belum pernah sekalipun kesana, aku juga tidak punya satu pun sanak sanak saudara yang tinggal disana. Bahkan aku belum tahu akan menginap dimana jika sudah sampai di Jogja. Aku hanya mengikuti kata hatiku yang terus berteriak bahwa aku harus tetap melangkah kesana, bagaimana pun kondisinya.

Langit saat itu cerah seperti memberi restu kedatanganku di Yogyakarta. Jalanan tidak begitu ramai, wajar karena waktu itu bukan akhir pekan atau musim liburan. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Untuk mengisi waktu akhirnya aku mencoba berbincang dengan penumpang lain. Melalui sebuah percakapan sederhana dari balik mobil yang terus bergerak itu, aku berkenalan dengan dua orang teman baru, seorang pemuda yang merupakan Duta Wisata Kabupaten Wonosobo dan seorang gadis yang ternyata juga mau ke Yogyakarta. Dari gadis bernama Nana itu aku mendapat rekomendasi sebuah penginapan yang cukup murah, yakni cuma Rp.60.000/malam. Aku pun memutuskan untuk menginap disana bersama gadis manis berambut pendek sebahu itu. Pastinya beda kamar lah ya, ga usah mikir aneh-aneh kelen… Hhhaha

Yogyakarta telah diselimuti malam saat aku tiba. Aku dan Nana pun turun ditengah kota, lalu dengan menggunakan transportasi online kami segera beranjak menuju penginapan. Napinap Homestay namanya, sebuah hostel yang mengusung konsep dormitory ini telah bersiap menampung petualang berkantong tipis seperti aku ini. Setelah aku perhatikan seisi ruangan, sangat layak untuk dijadikan pilihan oleh para backpacker. Murah tapi tidak murahan.

Baca juga : Napinap Homestay Yogyakarta, Penginapan Murah Untuk Para Backpacker, Tarifnya cuma Rp 60 ribu aja !!!

 

CANDI PRAMBANAN PENUH KEJUTAN

Malam telah menjelma menjadi pagi, mentari juga telah menggantung di langit seperti memberiku semangat untuk segera menjelajahi Yogyakarta. Usai mandi dan berkemas, aku segera meninggalkan hostel dan bertolak ke Candi Prambanan, destinasi pertama yang akan aku sambangi di kota bakpia tersebut. Tadinya aku ingin mengajak Nana juga biar lebih seru, tapi ternyata hari itu  dia harus mengikuti sebuah wawancara kerja di salah satu Bank disana. Akhirnya aku pun harus kembali melanjutkan kehidupan ini seorang diri, eh… Hhhaha

Berbekal gawai di tangan, aku pun memesan ojek online untuk mengantarkanku ke candi Prambanan. Yogyakarta memang sangat ramah bagi para traveler seiring dengan menjamurnya transportasi online disini. Jadi para wisatawan tidak perlu pusing dan takut tersesat jika sedang berada disini. Abang Ojol siap sedia mengantarkanku kemana pun kau mau.

Tiga puluh menit berlalu, aku pun menjejakkan kaki di kawasan Candi Prambanan, sebuah destinasi wisata yang sangat terkenal bahkan sampai ke luar negeri. Peninggalan sejarah Indonesia yang dulu hanya bisa aku lihat di televisi dan foto-foto yang wara-wiri di sosial media itu kini sudah ada di hadapanku. Dari jauh saja sudah sangat kelihatan megah, apa jadinya jika aku semakin mendekat. Aku pun mengayunkan langkah seolah tersihir oleh pesona Candi Hindu yang dibangun pada abad 9 Masehi tersebut. Entah aku yang salah jalan atau memang petugas tiketnya yang sedikit lalai, aku pun berhasil masuk tanpa membayar registrasi masuk. Aku hanya terheran-heran bercampur bahagia, kan lumayan juga bisa hemat 40 ribu. Hhhehe

IMG_6295

IMG_6352

Hari semakin terik, cuaca semakin panas, pengunjung candi pun kian mengganas. Dari sekian  banyak pengunjung terdapat satu rombongan anak sekolah yang berdarmawisata juga, bisa kalian bayangkanlah ya betapa hebohnya suasana di prambanan, anak-anak yang berlarian kesana-kemari, suara teriakan disana-sini, guru-guru yang mendampingi pun dengan sabar terus memberikan arahan meski sangat kelihatan  kalau mereka juga cukup kerepotan karena ulah anak-anak ini. Aku jadi heran kenapa para pendidik dengan segudang kesabaran seperti ini masih sering mendapatkan perlakuan tidak pantas dari para murid, bahkan mirisnya dari orangtua murid juga. Mau dibawa kemanalah bangsa ini jika generasi penerusnya saja tidak punya adab.

IMG_6246

IMG_6327

IMG_6270

Setelah puas mengelilingi candi, aku bergegas untuk pulang. Saat hampir sampai di pintu keluar, telingaku menangkap suara seorang pria yang memanggil. Aku pun menggerakkan kepalaku mencari sumber suara tersebut. Pandanganku pun terhenti pada sesosok pria berkulit hitam yang berjalan menghampiriku. Ternyata lelaki yang belakangan kutahu bernama Andi itu hanya meminta tolong untuk memotret dirinya di depan Candi Prambanan, dengan senang hati aku pun menyanggupinya. Sejenak kemudian kami pun mengobrol sebentar, rupanya dia juga sedang Solo Traveling dari Makassar. Kami akhirnya bertukar kontak, dia pun menanti kedatanganku ke Makassar, aku juga akan dengan senang hati menyambutnya di Medan.

IMG_6369 1

MENANTI SENJA DI CANDI RATU BOKO.

Jatah liburanku tersisa dua hari lagi, oleh karena itu aku harus bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk menjelajah Yogyakarta. Setelah berhasil memuaskan rasa penasaran terhadap keanggunan Candi Prambanan, maka aku mencoba mengobati rasa rinduku kepada senja yang sudah lama tidak kusapa. Usai berselancar di internet, aku pun jatuh hati pada sebuah spot yang menarik yang sering dijadikan oleh para wisatawan untuk melewatkan momen matahari terbenam di  kota gudeg tersebut., yakni objek wisata candi Ratu Boko.

Jarak dari Napinap Homestay ke Candi Ratu Boko memakan waktu sekitar satu jam. Harusnya jika aku berangkat dari Prambanan tadi pasti lebih dekat, sayangnya baterai kameraku sudah sekarat karena kebanyakan bertempur saat di Prambanan tadi dan aku sama sekali tidak memiliki baterai cadangan. Makanya mau tidak mau aku harus pulang sebentar untuk mengisi daya kameraku. Namanya juga mirrorless ya kan, baterainya cepat lapar. Kelen doain aja semoga ada rezeki lebih buat beli baterai cadangan. Amin… Hhehe

Cuaca yang tadinya cukup terik perlahan mulai memudar. Sementara aku masih bersemayam di hotel seorang diri. Rencana awal aku memang akan berangkat sendiri menuju Candi Ratu  Boko, namun sepertinya Tuhan memberikan kejutan kecil yang mungkin akan meringankan langkahku kesana. Tak lama kemudian muncul seorang gadis dari balik pintu hotel, nampaknya Nana baru pulang ujian seleksi pegawai di salah satu bank. Sebuah ide pun menjalar di otakku, “Sepertinya asik kalau aku ajak dia juga ke Ratu Boko,” batinku. Gayung bersambut, tawaranku akhirnya diterima oleh perempuan asal Wonosobo itu. “ Boleh mas, kebetulan aku belum pernah juga toh kesana,” jawabnya dengan dialek jawa yang kental. Dalam hati aku kegirangan, selain punya partner perjalanan, kan lumayan juga bisa patungan buat bayar taksi online nantinya. Hhhehe

Hari semakin sore, kami sudah berada di dalam mobil yang akan membawa kami ke Candi Ratu Boko. Awalnya perjalanan ini lancar-lancar saja, tapi begitu kami meninggalkan pusat kota Yogyakarta, kemacetan pun mulai menyerang. Aku lupa kalau hari itu adalah hari sabtu, banyak orang-orang yang akan menghabiskan akhir pekannya di luar kota. Suasana macet seperti ini mengingatkanku pada keadaan di kota Medan, pasti banyak juga yang berlomba-lomba menyerbu kota Berastagi untuk melewatkan akhir pekannya, dan sudah dapat kubayangkan, lalu lintas pun pasti akan padat merayap. Tiba-tiba perasaanku mulai cemas, tapi tidak dengan Nana, aku melihatnya duduk santai di dekat pintu sambil asyik dengan smartphonenya. Tidak sedikitpun gurat kegelisahan tampak di wajahnya, mungkin seandainya pun gagal melihat sunset di Ratu Boko hari ini, dia bisa saja kembali di lain waktu, toh jarak dari Wonosobo ke Yogyakarta tidak sejauh Medan ke Yogyakarta. Sehingga aku akan merasa sangat rugi jika tidak berhasil menyaksikan fenomena matahari terbenam di Ratu Boko yang terkenal itu.

Usai lelah berdesak-desakan dengan kendaraan yang ramai di jalan, akhirnya Aku dan Nana tiba juga di Candi Ratu Boko yang letaknya sekitar 3 km dari Candi Prambanan. Setelah membayar retribusi sehar∞ga Rp.40.000 kami pun bergegas karena takut ketinggalan momen sunset. Sesampainya kami di kompleks candi, ternyata tidak ada satu pun bangunan yang berbentuk candi disini. Makanya aku heran kenapa yang disebut candi ? Nama Ratu Boko artinya adalah Raja Bangau yang diambil dari nama Ayah dari Roro Jonggrang. Yang lebih mengejutkanku adalah banyak pengunjung telah lebih dulu memadati candi yang sudah ada sejak abad 8 Masehi tersebut. Mayoritas mereka sudah duduk manis dan mengambil posisi masing-masing untuk menikmati peralihan waktu dari sore ke malam itu. Ada yang datang bersama keluarganya, teman, bahkan pasangannya.

IMG_6568

IMG_6576 1

IMG_6594 copy

Tak lama berselang, akhirnya cahaya merah saga itu menunjukkan keanggunannya. Ia memeluk pintu gerbang komplek dengan lembut sehingga menjelma menjadi siluet yang indah. Orang-orang pun berbondong-bondong mengabadikannya dengan kamera. Sementara aku hanya diam terpaku menatap senja yang tak henti-hentinya menebarkan pesonanya. Saat aku menoleh ke arah Nana, dia pun sepertinya begitu syahdu menikmati suasana. Hatiku berbisik, mungkin jika aku tidak berjumpa dengannya, cerita perjalanan ini pasti akan berbeda.

IMG_6638 copy

IMG_6636 copy

IMG_6619 copy

                                                                            ∞

Tak kusangka banyak hal yang mewarnai petualanganku di Yogyakarta. Berangkat seorang diri tanpa mengenal siapa-siapa. Perasaan takut sempat menerpa. Tapi aku selalu percaya bahwa Tuhan selalu menyertai langkah hambanya.

Yogyakarta, aku akan kembali menyapa, sebab masih ada sebaris rindu yang tersisa dan pesonamu masih banyak yang belum kujelajah.

 

Salam Petualang

Sampai jumpa di perjalanan 🙂


21 respons untuk ‘Yogyakarta, sebaris rindu untuk kota istimewa

  1. jogja akan selalu istimewaa, uda lama sekali gak main ke jogjaaa jd pengen juga menikmati syahdunya senja di ratu boko. Selamat meneruskan perjalanan mas, jangan lupa bagi terus ceritanya. Salam kenal ~

    Suka

  2. Mantap ulasannya bang. Tapi kalau se Jogja mau dijelajahi lagi tentu lebih pol mantul, tapi tak bisa kalau cuma satu hari. Banyak sekali bang destinasi wisata disini. Yah biasanya siapapun kalau sudah ke Jogja pasti nyempatin ke Malioboro, katanya seperti di Eropa. Sini ngopi kalau masih di Jogja.

    Suka

  3. Gokil! Keren banget mas brooo
    Mantapss
    Memang solo traveling selalu memberikan kejutan yang tak disangka-sangka.
    Perjalanan ke tempat baru, bertemu orang-orang baru dan mana tau ketemu jodoh juga
    hahaha

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Avant Garde Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.