Pertama Kali Mendaki Gunung Singgalang Sumatera Barat

Langit Padang Pariaman sudah mulai mendung saat kami berangkat menuju Gunung Singgalang. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, bergeser beberapa jam dari rencana awal keberangkat yang seharusnya pagi hari. Namanya juga orang Indonesia ya kan, budaya jam karetnya susah dihilangkan. Alhasil dapat dipastikan jika kami akan sampai malam hari di puncak Gunung Singgalang. Meski begitu, Aku, Asri, Andri, Faris, Andre, dan David tetap melanjutkan pendakian Gunung Singgalang ini dengan penuh keceriaan.

Lima pemuda minang ditambah satu pemuda mandailing itu pun melesat dengan menggunakan sepeda motor. Gunung Singgalang sendiri memiliki tinggi 2877 mdpl dan berada di Desa atau Nagari Pandai Sikek, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Kami harus menempuh waktu satu jam dari Kabupaten Padang Pariaman. Di tengah jalan, tepatnya di Kota Padang Panjang kami berhenti sebentar untuk makan siang di salah satu warung makan. Baru beberapa sendok saja nasi masuk ke mulut, hujan mendadak turun dengan derasnya mengguyur motor yang parkirkan di samping warung. Di sela-sela melahap sepiring nasi dengan lauk ayam cabe hijau, mataku menangkap sesosok wanita berparas cantik sedang duduk bercengkerama dengan pemilik warung nasi di di salah satu meja. Mereka terlihat akrab, mungkin gadis itu adalah anak perempuan dari pemilik warung nasi tersebut. Aku kembali menatap piring di hadapanku dan melanjutkan aktifitas makanku. Tiba-tiba nafsu makanku meningkat, hidangan di depanku menjadi lebih enak. Dalam sekejap, sepiring nasi berlauk ayam cabe hijau beserta nasi tambuhnya pun tandas tak bersisa. Entah karena aku kelaparan atau memang makanan tersebut menjadi begitu sangat lezat. Tak kusangka ternyata ada bidadari cantik di kota yang dingin ini.

Hujan telah reda dan langit kembali ceria. Kami berenam melanjutkan perjalanan. Mataku lagi-lagi menoleh ke gadis berparas teduh itu, kupandang dia lekat-lekat dengan harap dia membalas tatapanku. Malangnya nasibku, ternyata Tuhan belum mengizinkan kami saling beradu pandang. Wusss, motor melaju lagi dengan kencang dan meninggalkan rasa penasaranku pada gadis itu.

Dari Kota Padang Panjang kami bertolak ke Kecamatan Sepuluh Koto. Di pasar Koto Baru kami singgah sebentar untuk belanja melengkapi keperluan logistik yang akan kami bawa selama pendakian.

Setelah melengkapi keperluan logistik, kami bergerak menuju posko pendakian yang jaraknya 2 km lagi. Kami harus melalui jalan yang berkelok dan menanjak. Jadi sangat disarankan agar kondisi motor harus optimal jika ingin melewati tanjakan ini, kalau tidak ingin motor kalian menjadi mogok. Lima belas menit berlalu, kami pun tiba di posko pendakian Gunung Singgalang. Usai dilakukan pendataan dan membayar retribusi seharga Rp.10.000/orang juga uang parkir seharga Rp.30.000/ motor. Kami akhirnya memulai pendakian

Halo Gunung Singgalang !!

Sambutlah kedatanganku dengan riang !!!

Kami mengayunkan langkah dengan penuh semangat. Diantara kami berenam, hanya Aku, David, dan Andri yang baru pertama kali mendaki Singgalang. Makanya bisa dibilang yang paling bergairah tentulah kami bertiga. Satu jam pertama kondisi trek masih lumayan aman. kami hanya melewati ladang sayur warga dan juga tumbuhan bambu yang sangat lebat. Meski begitu badanku mulai berontak dan kepalaku pusing dan aku hampir saja muntah. Padahal ini masih awal perjalanan dan trek nya juga masih biasa-biasa saja. Mungkin aku terlalu banyak makan sewaktu di lapau nasi Padang Panjang tadi.

” Gawat kali bah, padahal masih awal udah ngulah gini, ” bisikku.

Aku akhirnya beristirahat sejenak dan membiarkan yang lain jalan duluan. Beberapa menit kemudian setelah meminum dua teguk air mineral dan nafas kembali normal, kulanjutkan menapaki jejak menuju puncak Gunung Singgalang. Sebuah pembelajaran, ke depannya aku tidak boleh terlalu kenyang lagi kalau mau melakukan pendakian. Tapi kalau yang jaga warungnya cantik ga tau juga sih… Hhhaha

Detik berganti dengan menit, dan menit berakumulasi menjadi jam. Usai disambut oleh hujan di awal perjalanan kami pun beristirahat di pos mata air. Di Gunung Singgalang ini tidak ada shelter, jalur pendakiannya memiliki 3 buah pos mata air. Yang terakhir berada di puncak yaitu Telaga Dewi. Jadi para pendaki yang ingin menjelajah gunung ini tidak perlu takut kehabisan air dan tidak perlu lagi membawa banyak air dari pos pendakian. Airnya juga sangat segar, kalahlah sama kesegaran air mineral kemasan yang banyak dijual di pasaran. Meski begitu, masih lebih segar senyuman mengembang dari gadis di warung makan Padang Panjang itu. Alamaakk, capek-capek gini aku masih kepikiran dia saja. Hhhaha

Waktu istirahat kami selalu diselingi oleh canda dan tawa yang kebanyakan berasal dari David. Orang ini penuh dengan banyolan yang mampu melonggarkan urat saraf kami yang tegang karena kelelahan. Dia cukup lama di Medan, jadi komunikasi antar kami cukup mudah menyambung. Tapi terkadang mereka juga melucu dengan dialog minang yang kadang tidak aku pahami. Hhahaha

Setelah beristirahat yang entah yang untuk keberapa kalinya kami kembali menyeret langkah kaki untuk menyusuri hutan Gunung Singgalang. Semakin puncak tentu saja jalurnya semakin cadas. Tidak ada lagi bonus jalan yang landai, semuanya sudah kian menanjak. Tidak ada lagi jalan yang rata, bahkan cenderung membentuk sudut 90 derajat. Jalur pendakian sudah dipenuhi oleh akar-akar pohon yang kokoh, licin, dan tumbuhnya tidak beraturan. Singgalang mulai menunjukkan kegagahannya. Otot kaki dan bahu semakin menegang, nafasku kian berkejaran, jantung semakin berdegup kencang, keringat juga mengalir begitu deras. Disinilah mental pendaki itu akan diuji, apakah ia akan menyerah dengan keadaan yang sangat menyakitkan seperti itu, atau justru akan berjuang melawan rasa lelahnya. Makanya bisa aku katakan modal utama seorang pendaki bukanlah fisik yang kuat, melainkan mental yang tahan banting. Karena jika mental sudah kuat, maka fisik otomatis akan mengikuti. Begitu juga sebaliknya, jika mental sudah lemah, fisik sekuat apa pun tidak ada gunanya.

Hari semakin sore dan langit kian gelap. Angin juga semakin berhembus kencang menusuk kulit yang basah oleh keringat. Maghrib pun mulai menjelang. Tapi kami masih setengah perjalanan. Diawal kami memang terlalu santai berjalan dan terlalu lama beristirahat. Sebenarnya tidak masalah jika berjalan santai, hanya saja mendaki malam hari itu cukup berbahaya. Selain minim penerangan, udara akan semakin dingin, kadar oksigen juga akan turun. Sesak pun bisa terjadi kapan saja bahkan tidak menutup kemungkinan dilanda hipotermia.

Mau tidak mau kami akhirnya memutuskan untuk mempercepat langkah kami, tidak ada lagi acara bersantai ria. Kami harus menggenjot stamina lebih keras lagi jika tidak ingin mati kedinginan di tengah hutan. Terlalu lama berdiam diri juga tidak baik, karena suhu tubuh bisa semakin turun dan beresiko terkena hipotermia. Jadi satu-satunya pilihan adalah terus bergerak meski lelah sudah tidak tertahankan lagi. Malam kian mencekam dan kami masih terus berjuang diterpa oleh angin malam.

Setelah melewati jalur pepohonan yang lumayan cadas aku sedikit lega. Kami pun beristirahat sejenak dan membuat kopi panas untuk sedikit menghangatkan badan ditengah terpaan angin yang semakin membabi buta. Aku mulai mengenakan jaket karena sudah tidak tahan lagi dengan dinginnya malam yang kian menggigit itu. Kami hanya meringkuk kedinginan sambil sesekali menyeruput kopi, semua wajah kelihatan sangat kuyu dan lelah. Aku melihat ke arah David dan mencoba memancingnya untuk mengeluarkan lawakannya, ternyata aku gagal. Dia hanya terdiam menahan lelah. Kopi pun mendingin, sedingin malam tanpa adanya canda tawa lagi.

Istirahatnya cukup sampai disini. Kami harus kembali melewati jalur cadas kedua yang tidak kalah terjalnya untuk menuju area camping yang berada di Telaga Dewi. Gunung Singgalang yang terletak di Sumatera Barat ini ternyata memiliki dua buah jalur yang dikenal cadas. Jalur pertama dipenuhi oleh akar pohon dan lumayan berlumpur, sedangkan jalur cadas kedua merupakan daerah berpasir dan penuh dengan bebatuan.

” Ayo kakiku bertahanlah sedikit lagi, ” teriakku dalam hati sambil menepuk-nepuk pahaku berulangkali.

Dengan sisa tenaga dan langkah yang mulai goyah kucoba untuk menapaki cadas yang kedua ini. Aku sadari, aku sudah terlalu lama tidak melakukan pendakian lagi, terakhir saat di Gunung Kerinci pada 2015 silam. Dengan kata lain, sudah hampir 4 tahun aku tidak menyapa gunung lagi. Sehingga aku pikir langkahku yang terseok-seok di Gunung Singgalang ini karena kaki ini sudah terlalu lama dimanja oleh suasana di kota, atau mungkin karena faktor usia ? Ahhssuudahlahhh… Hhhaha

Akhirnya setelah hampir 10 jam pendakian tibalah kami di Telaga Dewi yang merupakan area perkemahan atau camping ground di Gunung Singgalang ini. Padahal normalnya paling cuma 7-8 jam saja. Tanpa banyak cerita lagi kami langsung memasang tenda karena badan sudah meminta jatah untuk segera diistirahatkan. Sehabis tenda terpasang, kami membuka bungkus nasi yang sudah dipersiapkan di rumah dan mulai menyantap makan malam. Kami pun terlelap di tengah angin malam yang menggebu-gebu.

Hari pun berganti. Fajar mulai mengintip dari balik pepohonan. Cahaya merahnya memeluk segenap air Telaga Dewi. Fenomena yang sungguh indah. Aku merasa rasa lelah selama pendakian mendadak sirna kala melihat matahari pagi itu terbit dengan begitu anggunnya.

Kami memutuskan untuk menginap selama 2 malam di Gunung Singgalang. Hal-hal yang kami lakukan hanya tidur, makan, memotret, dan tentu saja menikmati sajian alam yang begitu luar biasa si Telaga Dewi ini. Telaga dewi ini cukup tenang, jika cuaca sedang bagus air telaga akan memantul cahaya matahari dan pohon-pohon sekitarnya. Sehingga warna air pun sering berubah-ubah tergantung cuaca. Kadang coklat, abu-abu, dan kadang berwarna hijau tosca. Kebetulan hanya kami berenam saja yang berkemah saat itu, kami memang sengaja memilih hari senin untuk melakukan pendakian bukan akhir pekan supaya tidak ramai yang berkemah. Karena semakin sunyi sebuah gunung, maka semakin nikmat suasananya.

Tidak ada suara bising kendaraan. Kami hanya mendengar suara angin yang mendesah, daun yang bergesekan, dan kicauan burung yang saling bersahutan

Tidak ada lampu sorot yang begitu silau. Kami hanya memandang ilalang yang bergoyang, fajar dan senja yang saling bergantian mengintip dari balik pepohonan, dan tentu saja langit malam dengan segenap gemintangnya yang berkilau.

Untuk urusan makanan kami tidak main-main. Kami membawa perlengkapan logistik yang lebih dari cukup dan tentunya sangat enak dan bergizi. Seperti nasi tentunya, ada juga sambal ikan, sandwich, risoles, nugget, lengkap dengan sayur-sayuran dan buah-buahan. Tidak lupa kami juga menyediakan beberapa cemilan juga. Kami sadar tubuh juga perlu diberikan asupan nutrisi terbaik saat melakukan selama di gunung. Energi tubuh sudah banyak terkuras saat pendakian. Maka untuk mengisi energi itu kembali kembali kita membutuhkan makanan dengan gizi yang tinggi. Oleh karena itu kasihani badanmu dengan tidak mengonsumsi mi instan selama pendakian ya kawan-kawan.

Malam terakhir di Gunung Singgalang cuaca jadi lebih dingin dari semalam. Aku mendengar angin seolah saling berkejararan hingga menembus tenda kami. Jaket dan sleeping bag yang membungkus badanku ternyata kurang mampu menahan terpaan hawa dingin yang kian menggeliat malam itu. Tenda, jaket tebal, sleeping bag, sarung tangan, dan kaos kaki adalah perlengkapan wajib yang harus dibawa oleh pendaki. Dengan adanya kelima benda tersebut bisa menghangatkan tubuh kita dengan baik di saat cuaca di gunung yang memang sering tidak bisa diprediksi, bunuh diri namanya jika ketiganya tidak dibawa saat mendaki. Makanya aku terkadang heran jika melihat rekan-rekan sesama pendaki masih sering anggap remeh terhadap dinginnya gunung dengan tidak membawa peralatan standar pendakian. Tidak apalah membawa barang yang sedikit lebih banyak, yang penting keselamatan kita diatas gunung terjamin. Dan jangan pernah sekali pun memaksakan diri untuk menaiki gunung jika memang kondisi badan kita sedang tidak fit. Seperti apa pun bentuknya, gunung tetaplah kawasan berbahaya yang tidak bisa dianggap sepele. Dan tidak pernah ada kata darurat jika persiapan kita sudah matang, seperti persiapan mental, fisik, peralatan, dan tentunya logistik yang cukup.

Malam pun menjelma jadi pagi. Setelah sarapan kami mengemasi barang untuk bersiap-siap pulang. Setelah semua beres kami pun berangkat. Tidak lupa sampah-sampah sisa turut kami bawa pulang juga. Percayalah jika kita menjaga alam, maka alam juga akan menjaga kita.

Kami mulai menuruni jalanan yang terjal. Nah jika ada yang bertanya lebih capek naik atau turun ? Maka akan aku jawab semuanya sama-sama capek, hanya saja bentuknya berbeda. Jika saat naik jantung akan berdegup lebih kencang, otot paha dan bahu yang akan merasakan kontraksi. Nah kalau saat turun jantung tidak akan berdegup sekencang saat naik, tapi lutut, otot betis dan pergelangan kaki yang akan banyak bermain disini. Maka usahakan memakai sepatu yang bagus dan satu nomor lebih besar dari sepatu kita yang biasanya. Misalnya sepatu kita biasanya nomor 40, maka pilihlah sepatu gunung dengan nomor 41. Hal ini untuk meminimalisir terjadinya cedera kaki saat menuruni gunung. Banyak cedera kaki yang dialami oleh para pendaki karena diakibatkan pemilihan sepatu yang asal-asalan.

Waktu terus bergulir. Alhamdulillah cuaca cukup cerah saat kami melangkah pulang. Meski begitu sisa hujan dua hari lalu lumayan membuat jalanan sedikit licin. Aku malah sampai beberapa kali terpeleset. Jika saat menaiki gunung kami membutuhkan waktu 10 jam, sedangkan saat turun kami hanya menempuh waktu 3,5 jam saja. Perbedaannya sungguh luar biasa.

Alhamdulillah. Sekitar pukul 5 sore kami tiba di posko pendakian dengan pakaian yang kotor, wajah kusam, kaki dan bahu yang sangat pegal. Dan tentunya dengan perasan sangat bahagia juga. Karena esensi mendaki gunung bukanlah saat mencapai puncak, tapi saat kita bisa kembali pulang dengan selamat. Di posko pendakian kami pun menyeruput teh hangat dan beberapa cemilan untuk sedikit memulihkan tenaga yang telah banyak terkuras selama menuruni gunung. Kemudian memacu lagi sepeda motor untuk kembali ke rumah masing-masing. Pendakian kami di Gunung Singgalang pun selesai dengan kepuasan batin yang tiada terkira.

Kita tidak bisa menganggap sepele sebuah gunung. Setiap gunung mempunyai kesulitannya masing-masing. Dulu aku selalu menilai sebuah dari ketinggiannya saja, semakin tinggi berarti treknya semakin susah. Ternyata aku salah. Gunung Singgalang yang hanya setinggi 2877 mdpl ternyata memiliki trek yang sungguh terjal. Makanya Singgalang termasuk gunung kurang begitu diminati oleh para pendaki di Sumatera Barat, masih kalah pamor jika dibanding Gunung Marapi yang letaknya masih berdekatan. Seperti halnya manusia, penampilan luar sebuah gunung bisa saja menipu mata. Jangan pernah mengambil kesimpulan sebelum kita menjelajahinya lebih dalam.

Tidak ada sukses yang instan. Itu juga yang sering diajarkan oleh Gunung kepada kami para pendaki.

Salam petualang

Sampai jumpa di perjalanan.

Nb : Foto-foto kece lainnys ada di instagramku @bang_harlen 😁


15 respons untuk ‘Pertama Kali Mendaki Gunung Singgalang Sumatera Barat’

    1. Minimal sekali seumur hidup cobalah untuk naik gunung kak. Trek yang standar gpp lah. Ajak si babang pasti dia mau. Gunung itu one of the best romantic place lho kak. 😂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.