Oleh-oleh dari Air Terjun Nyarai Sumatera Barat

Aku masih menghirup udara segar Padang Pariaman. Masih ada destinasi wisata yang ingin aku kunjungi disini. Karena nyatanya Sumatera Barat ini masih menyimpan banyak pesona alam yang luar biasa. Salah satunya adalah Air Terjun Nyarai yang akan aku datangi hari ini.

Hari Rabu itu cuaca cukup cerah. Langit dipenuhi gumpalan awan seperti kapas. Angin berhembus dengan manja seolah mengajakku untuk segera keluar rumah. Sesuai kesepakatan, Aku akan menjelajahi Air Terjun Nyarai bersama dengan Andre, kawan baruku dari Pariaman. Ia juga turut serta saat aku dan kawan-kawan lain mendaki Gunung Singgalang beberapa waktu lalu. Kami pun berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Hatiku sangat bersemangat dan tidak sabar untuk segera menyeburkan diri ke Air Terjun yang aku ketahui dari salah satu program televisi itu.

Baca juga : Sebuah Mimpi Untuk Keliling Indonesia

Air terjun nyarai terletak di Nagari Salibutan, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Objek Wisata ini juga masuk ke dalam Cagar Alam Nasional Bukit Barisan I. Dari Nagari Gadur ke menempuh waktu sekitar setengah jam menggunakan motor. Karena minimnya petunjuk jalan, kami harus bertanya kesana-sini dulu. Akses jalan kesini juga lumayan rusak, sebab truk-truk berat sering melintas disini. Setelah melewati banyak belokan dan jalan bebatuan dan penuh lubang, akhirnya Aku dan Andre tiba juga di pos Air Terjun Nyarai. Tadinya aku pikir hanya kami saja yang datang berkunjung karena bertepatan hari kerja, rupanya sudah ada beberapa mobil dan sepeda motor yang terparkir disana. Kalau boleh jujur, untuk wisata alam seperti sebenarnya aku lebih menyukai suasana yang sepi dan hening. Makanya aku lebih sering mendatangi objek-objek wisata alam itu saat hari kerja supaya tidak ramai. Tapi apa mau dikata, terkadang harapan tidak selalu dengan kenyataan. Seperti hatimu yang ternyata tidak tercipta untukku.

Usai memarkirkan motor, kami melangkah untuk membeli tiket.

“Tiketnya 100 ribu bang,” ujar seorang petugas. Sontak aku dan andre tercengang, kami saling bertatapan.

“Kok mahal pak, bukannya cuma 20 ribu aja ya ?” Tanya andre dengan tatapan tajam.

” 100 ribu itu sebenarnya paket satu rombongan bang, kebetulan karena abang cuma berdua makanya jadi mahal, kalau tadi abang rame-rame bisa lebih murah jadinya. Uangnya itu udah sama jasa guide sama sepatu anti selip biar tidak terpeleset saat melewati bebatuan. ” balas petugas tersebut untuk meyakinkan kami.

” Gimana bang, gas aja bang ? ” tanya andre padaku.

” Udah gas ajalah, udah sampai sini juga kita. ” jawabku seraya menghela nafas dan hati yang sedikit kurang ikhlas.

Lalu aku menyodorkan selembar uang pecahan seratus ribu dan menuliskan nama kami di buku daftar pengunjung. Detik selanjutnya petugas tersebut menyerahkan selembar kwitansi dan menyuruh kami agar duduk sebentar di salah satu warung sambil menunggu guide kami datang. Setelah hampir 10 menit berada di warung, guide kami akhirnya tiba. Seorang pria paruh baya berkulit coklat menghampiri Aku dan Andre dengan seulas senyum. Aku berharap yang tersenyum di hadapanku itu adalah seorang gadis cantik, tapi ini ahhh sudahhlahhhh…

Kami pun memulai trekking menuju Air Terjun Nyarai.

Dari info yang aku dapatkan, waktu tempuh dari posko menuju Air Terjun Nyarai sekitar 2 jam perjalanan. Waktu itu bisa dipangkas jika pengunjung berjalan lebih cepat dan tidak banyak beristirahat dan bisa juga lebih lama jika pengunjung berjalan lebih santai dan banyak istirahat. Semua tergantung kondisi. Akses jalannya juga menurutku lumayan aman karena kondisi jalannya yang cukup landai dan tidak banyak mendaki. Jadi bisa dijadikan alternatif liburan bagi keluarga di rumah. Guide yang disediakan juga bisa diandalkan dan sangat bertanggung jawab kok.

Langit masih kelabu. Kami masih melangkah dibawah tanah yang becek sisa hujan kemaren. Keadaan jalan yang licin membuat beberapa kali terpeleset, sandal gunungku ini sepertinya minta diganti karena kurang menggigit lagi. Mudah-mudahan ada rezeki lebih supaya bisa beli sandal gunung baru. Amin.

Seperti halnya suasana di alam. Disini udaranya sangat segar dan bebas dari polusi yang ada di kota. Tidak ada kemacetan, yang aku lihat hanya pemandangan pepohonan yang beriringan. Tidak ada kebisingan, yang aku dengar hanya suara-suara yang berasal dari gemericik air sungai, daun yang bergesekan, burung-burung yang berkicau, lalu suara jangkrik dan tonggeret yang saling bersahutan yang membentuk rangkaian harmoni yang begitu tenang dan mendamaikan hati. Aku merasa hutan ini seolah memberi sambutan hangat atas kedatangan kami. Alam memang selalu menjadi tempat yang paling tepat untuk menjernihkan kembali hati dan pikiran yang mulai keruh. Aku selalu suka berada disini. Bercengkerama dengan alam dan mendengar keluh kesah mereka oleh ulah manusia yang melakukan kerusakan disana sini. Alam itu juga makhluk hidup seperti kita, mereka juga bisa merasakan sakit. Maka jangan salahkan alam jika mereka mulai murka karena ulah manusia.

Karena manusia sendirilah yang menjadi biang kerok atas bencana yang semakin merajalela.

Sepanjang perjalanan. Aku juga berinteraksi dengan Bapak Guide yang aku lupa siapa namanya. Dari obrolan sederhana kami mendapatkan info kalau sungai yang membelah hutan ini adalah sungai larangan. Orang-orang dilarang mengambil ikan dari sungai ini sebelum larangannya dicabut. Dan sudah 5 tahun larangan tersebut masih berlaku. Dan insha allah pada tahun ini larangan tersebut akan dicabut tepat saat perayaan maulid Nabi Muhammad SAW nanti. Jadi yang punya hobi memancing bolehlah datang kesini sembari berlibur bersama keluarga tercinta. Ikannya lumayan banyak dan besar-besar.

Setelah trekking sejauh hampir 5 km melintasi sungai dan kawasan Hutan Gamaran Salibutan. Sebuah jarak yang cukup membuatku berkeringat. Akhirnya kami sampai di tujuan. Sebuah air terjun dengan aliran yang cukup deras mulai menyapa. Airnya yang berwarna hijau tosca seperti memanggilku untuk segera membenamkan diri disana. Sebenarnya aku ingin secepatnya melompat kesana, tapi aku urungkan karena ingin beristirahat dulu sebentar sambil menyeruput segelas kopi yang tersedia di sebuah warung. Sedikit info, di lokasi wisata Air Terjun Nyarai ini terdapat sebuah warung yang menyediakan teh, kopi, mi instan, dan beberapa cemilan. Jadi pengunjung dijamin tidak akan kelaparan, tapi kalau teringat mantan bisa jadi. Hhhhaha

Tak berapa lama hujan mulai turun. Sambil menunggu hujan reda aku hanya mengobrol ringan saja dengan Andre, Bapak Guide yang aku lupa namanya. dan tentunya ibu penjaga warung. Hampir setengah jam berlalu, hujan akhirnya reda. Tak menunggu waktu lama aku langsung membuka kaos yang sudah penuh dengan keringat. Dengan berbekal celana boxer aku menuju ke tepi air terjun dan bersiap untuk melompat. Dari jauh memang kelihatan biasa saja, tapi begitu aku berdiri di pinggir tebing ternyata cukup membuat aku merinding. Padahal ukurannya tidak begitu tinggi, paling hanya 5 meter saja. Aku melihat Andre dan pengunjung lain begitu asyik melompat dari atas tebing, sedangkan aku masih mengumpulkan keberanian untuk melawan rasa takutku. Kalau boleh jujur sebenarnya aku ini orang yang takut ketinggian.

Setelah sekitar 10 menit menumpuk keberanian, akhirnya aku melompat ke dalam air. Sebuah lompatan yang biasa saja sebenarnya, tapi bagiku itu sangat berarti. Karena aku telah berhasil melawan ketakutanku. Detik selanjutnya, aku sudah terbenam di dalam air yang begitu segar. Perasaanku juga menjadi sangat lega. Semua beban di dalam pikiran terasa hilang seketika dan menguap begitu saja.

Loncatan pertama berhasil setelah melalui pergolakan batin yang lumayan lama. Aku pun jadi ketagihan untuk mencoba melakukan lompatan kedua. Aku kembali menyusuri tebing air terjun. Kali ini aku meminta tolong Andre untuk memotretku saat melompat untuk dokumentasi pribadi. Biar agak keren sikit ya kan… Hhhahaha

Aku sudah bersiap di bibir tebing. Andre juga telah bersiap menekan tombol kamera. Satu… dua… dalam hitungan ketiga aku akhirnya melompat. Mungkin karena terlalu bersemangat dan kondisi pijakan yang licin aku jadi terpeleset. Dan aku jadi terjatuh dengan punggung lebih dulu menghantam air. Seketika punggungku merah padam dan terasa sangat panas seperti habis ditampar oleh ribuan tangan. Aku lihat Andre menertawakanku dari kejauhan. “Sial,” pikirku.

Aku tidak menyangka kedatanganku pertama kali ke Air Terjun Nyarai ini mendapat oleh-oleh yang begitu berkesan. Mungkin “penunggu” nya tidak ingin aku kebanyakan gaya kali ya. Hhahaha

Beruntung. Meskipun jatuh dengan sangat tidak elegen. Hasil fotonya cukup memuaskan. Tidak kelihatan seperti orang yang terpeleset. Tidak percuma aku membawa fotografer terbaik se Sumatera Barat seperti Andre ini. Hhhahaha

Waktu terus bergulir. Jarum jam menunjukkan pukul 5 sore. Bapak guide yang aku lupa namanya memberi kode agar kami segera berkemas untuk pulang. Pengunjung Air Terjun Nyarai ini memang tidak dianjurkan untuk pulang malam. Karena kondisi jalan cenderung berkabut menjelang malam. Selain itu di area hutan ini masih terdapat hewan-hewan buas seperi Harimau, Beruang, dll.

Usai berkemas. Kami segera meluncur menuju posko kembali. Ternyata benar, kabut perlahan mulai turun menyelimuti pepohonan. Udara juga semakin dingin. Aku dan Andre mempercepat laju langkah sebelum kabut semakin tebal. Karena akan menghalangi pandangan dan tentunya sangat berbahaya. Bisa saja kami tersesat dibuatnya. Munculnya kabut juga sering menimbulkan halusinasi. Maka jangan heran jika sering terjadi kasus pendaki yang hilang dan tersesat di gunung. Jika dirunut kronologisnya, Kebanyakan dari mereka justru hilang karena memaksakan diri melanjutkan perjalanan padahal keadaan sekitar begitu berkabut.

Alhamdulillah sekitar pukul 6 sore kami sudah sampai di posko. Kuputuskan untuk beristiharat sejenak di warung seraya menyeruput segelas kopi hitam dan melahap beberapa kudapan yang tersedia disana. Tak berapa lama, langit menjelma gulita pertanda malam telah tiba. Aku dan Andre beranjak pulang ke rumah.

Suatu saat aku akan kembali

Sebab rinduku telah kutitipkan disini.

Salam petualang

Sampai jumpa di perjalanan.


20 respons untuk ‘Oleh-oleh dari Air Terjun Nyarai Sumatera Barat’

      1. Saya juga dari dulu malas tawar menawar untuk urusan pariwisata ini bang… kalo emang menurut kita kemahalan yaudah ga usah datang.. kasihan mereka bang.. berbagi rezeki gpp lah… hhhee

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.